Cerita-cerita Pulau Buru: Sejarah dan Nyanyi Burung Kedasih

Ignas Kleden
majalah.tempointeraktif.com

Pramoedya ist ein Begriff—Pramoedya bukan sekadar nama, tetapi sebuah pengertian, bahkan sebuah konsepsi. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang ibu yang amat simpatik, Prof. Irene Hilgers-Hesse, Ketua Jurusan Melayu di Universitas Koeln, ketika mengundang seorang mahasiswa filsafat di Muenchen tahun 1980, yang kebetulan saya sendiri, untuk membicarakan buku Bumi Manusia yang baru saja terbit. Continue reading “Cerita-cerita Pulau Buru: Sejarah dan Nyanyi Burung Kedasih”

Kesusasteraan Tanpa Sastrawan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

Ada serangkaian pertanyaan yang menggoda saya belakangan ini. Terutama, apa konsekuensi dari hubungan antara ilham dengan persiapan pra-menulis seorang pengarang. Di mana, di salah satu sisi, persiapan pra-menulis itu bermakna bakat dan kepekaan, kematangan tehnik dan wawasan mengarang yang berasal dari latihan menulis dan kebiasaan membaca, dan imajinasi dan fantasi yang dihidupkan oleh kreativitas dan empati. Sehingga sesuatu yang pasif dan hanya bertaraf potensi itu mendadak bisa dimotivasi, didinamisasi dan terbangkitkan, sehingga kerja mengarang itu mampu ditunaikan dan karangan terbentuk. Continue reading “Kesusasteraan Tanpa Sastrawan”

Memahami Puisi-puisi Sitor Situmorang

Aminullah HA Noor
suarakarya-online.com

Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang, terutama dari periode awal, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat -misalnya tentang keisengan atau keterasingan- melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib-rupa dan tertib-bunyi.

Ciri demikian itu membebaskan dia dari lingkungan pengaruh Chairil Anwar, sosok pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah. Continue reading “Memahami Puisi-puisi Sitor Situmorang”

Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie

Asep Sambodja
oase.kompas.com

Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK (1995), Taufiq Ismail menulis, “Enam bulan menjelang Gestapu, Mawie sudah berkata “kunanti bumi memerah darah”. Tepat, karena dia sudah tahu sebelumnya” (lihat halaman 219).

Apa yang salah dari kalimat Taufiq Ismail itu? Pernyataan itu merupakan interpretasi terhadap puisi Mawie Ananta Jonie yang berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang dimuat di harian Bintang Timur pada 21 Maret 1965. Merujuk pada jalan pikiran kalimat itu, enam bulan kemudian terjadi peristiwa G30S. Dan, Taufiq mengatakan, “Dia sudah tahu sebelumnya.” Continue reading “Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie”

Penulis Sastra dan Kuis Berhadiah

Anindita S. Thayf
kompas.com

Tanggal 15 Oktober 2010, saya menerima penghargaan sastra dari Balai Bahasa Yogyakarta. Novel saya, Jejak Kala, dianggap layak disemati julukan sebagai yang “terbaik” dari puluhan karya sastra yang ditulis para penulis Yogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit Yogyakarta. Tentu saja saya senang: ada karya saya yang mendapatkan penghargaan. Continue reading “Penulis Sastra dan Kuis Berhadiah”

Bahasa ยป