Pram, Buku dan Sastra Rasa Penjara

Catatan Buku Biografi Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Rama Prabu *
oase.kompas.com

Membincangkan Pramoedya Ananta Toer atau lebih dikenal Pram memang tak ada habis-habisnya, terbukti satu lagi buku biografi menambah khasanah dalam hal itu. Pram memang menarik untuk dibahas, dari sudut manapun terlebih jalan hidupnya yang berliku tak sewajarnya sebagai seorang tokoh perjuangan yang pada akhirnya lebih memainkan penanya dari pada terjun langsung dalam kancah politik nasional. Tapi jangan dikira, menjadi pengarang, menjadi sastrawan justru Pram telah membuat jalur sendiri dan menarik lawan politiknya untuk ikut dalam konsep permainan tinta hitamnya. Continue reading “Pram, Buku dan Sastra Rasa Penjara”

Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual (II)

Dad Murniah *
infoanda.com/Republika

Pendukung sastra kontekstual mempersoalkan universalisme dalam sastra Indonesia lantaran terlalu memusatkan perhatian pada kehidupan kota. Munculnya sastra kontekstual sekaligus berusaha menjawab konsep politik negara integralistik Orde Baru. Pendukung sastra kontekstual mengusulkan sastra seharusnya lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan atau anasir-anasir lain di luar wacana pusat. Continue reading “Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual (II)”

Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual (I)

Dad Murniah *
Republika, 4 Nov 2007

INGATKAH Anda dengan gagasan sastra kontekstual yang dilontarkan Arief Budiman? Arief memang dikenal dengan pandangan-pandangannya yang sangat kritis. Ia tidak hanya menggugat universalitas sosiologi dan ekonomi-politik, tapi juga sastra. Terhadap sastra universal yang dianut oleh para sastrawan utama sampai 1980-an, ia memperkenalkan sastra kontekstual, yang ia gelorakan dalam berbagai diskusi. Continue reading “Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual (I)”

MINGGU PAGI Melahirkan Sastrawan Indonesia

Masdharmadji
http://www.kr.co.id/

TANYAKAN kepada sastrawan-sastrawan besar Indonesia saat ini (terutama yang masih sugeng), dari ?rahim? siapakah mereka dilahirkan sebagai sastrawan? Jawaban agaknya akan segera diteriakkan: MINGGU PAGI.

Minggu Pagi? Ya, Minggu Pagi, majalah lokal asal Yogyakarta yang eksistensinya hingga kini tetap diperhitungkan oleh, tidak hanya orang awam, namun juga para intelektual. Continue reading “MINGGU PAGI Melahirkan Sastrawan Indonesia”

Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram (bukan dunia luar pagar)”

Y. Thendra BP

Tiga tukang kaba di atas tiga level, tampak seperti tungku. Di tengahnya, para penari dengan rebana kecil memainkan tari Indang, serupa api yang sedang menyala. Ditingkahi dendang dan alat musik Minangkabau (Saluang, Bansi, Rabab, dan Talempong yang silih berganti). Tiga tukang kaba itu melantunkan kisah, sahut menyahut. Continue reading “Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram (bukan dunia luar pagar)””

Bahasa ยป