Menjadi “Indonesia” lewat Sastra Melayu Tionghoa

Wahyudi Akmaliah Muhammad

Dalam pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah dahulu saya selalu diajarkan bahwa karya sastra yang termasuk dalam Balai Pustaka adalah genre sastra Indonesia modern, seperti Belenggu, Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan. Di luar karya sastra yang tidak tercantum dalam Balai Pustaka bukan bagian sastra Indonesia modern. Dengan kata lain, buku-buku sastra yang lain tidak patut dipelajari, karena bukan bagian dari detak sejarah sastra di Indonesia. Doktrin inilah yang membeku hingga sekarang. Lalu, kategori apa yang digunakan Balai Pustaka untuk menentukan bahwa sebuah karya termasuk sastra Indonesia modern? Prosedur apa yang diterapkan untuk menelisik ke-modern-an itu? Continue reading “Menjadi “Indonesia” lewat Sastra Melayu Tionghoa”

Ruang Anak-anak Peradaban Masa Depan

I Made Prabaswara
balipost.co.id

DI MANAKAH ruang bagi anak-anak dalam bangun peradaban yang dominan ditentukan manusia dewasa usia? Pertanyaan begini dipastikan tiada seberapa mengusik kalangan politisi negara maupun daerah yang kini berasyik-masyuk riuh-rendah dengan suksesi gubernur hingga pemilu, lanjut mengincar-incar kursi puncak kepresidenan buat peneguhan kuasa. Tak perlu heran bila Hari Anak Nasional 23 Juli nanti bakal lewat sepi-sepi saja, kalah gaung dengung tinimbang perdebatan egosentris kader–nonkader balon pemimpin tanpa standar kriteria jelas, kecuali kepentingan pribadi dan kelompok. Continue reading “Ruang Anak-anak Peradaban Masa Depan”

Gerakan Otonomi Analisis Sastra

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

NAFAS otonomi daerah yang kini digulirkan dalam birokrasi pemerintahan, sebenarnya sudah sejak lama dikenal dalam analisis karya sastra. Gerakan otonomi karya sastra dalam analisis puisi, cerita pendek (cerpen) dan novel meniru semangat pendekatan struktural yang dicetuskan dalam teori-teori sastra di negara Barat. Pendekatan struktural di negara maju tersebut, khususnya di Amerika, mementingkan analisis karya sastra dari segi bentuk (struktur). Penganut aliran ini menilai karya sastra sebagai suatu benda yang mandiri dan bersifat otonom, bebas dari ikatan sejarah kemasyarakatan. Continue reading “Gerakan Otonomi Analisis Sastra”

Puasa dan Kearifan Perempuan

Abidah El Khalieqy *
http://m.kompas.com/

Puasa Ramadhan merupakan kewajiban?ibadah mahdloh?bagi orang-orang beriman, khususnya kaum Muslim. Akan tetapi, esensi ibadah puasa bukan hanya sekadar ritus penahanan diri dari nafsu makan, minum, seks, dan sebagainya. Namun, dalam puasa juga termaktub ibadah-ibadah lain yang bersifat kultural, ghoiru mahdloh, yang dianjurkan syariat Islam untuk meraih kemuliaan dan kesempurnaan kemanusiaan kita. Continue reading “Puasa dan Kearifan Perempuan”

Melodrama Berkalung Gender

Beni Setia *
suarakarya-online.com

SAAT novel Abidah el-Khalieqy [AeK], Perempuan Berkalung Surban [PBS], difilmkan dan siap direlease di bioskop-bioskop Indonesia baru-baru ini, saya merasa tertantang untuk menyaksikan sejauh mana ide resolusi jenderiah AeK itu bisa tergali. Kenapa? Karena, pada dasarnya, novel PBS ini bertumpu di cerita melodrama wanita pesantren salafiah kecil di pedesaan Sundoro [baca: tak lebih dari 100 km dari Yogyakarta, PBS hlm 39], yang dikungkung ajaran fiqih yang bersumber penafsiran Hadis dan Qur’an yang teramat bersipat patriarki, dan kemudian tercerahkan karena berkemauan mengubah persepsi fiqihiah itu – dengan bantuan seorang ustad modern berpendidikan Gontor, al-Azhar Kairo dan universitas sekuler Berlin. Continue reading “Melodrama Berkalung Gender”

Bahasa ยป