PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA

Maman S Mahayana *

Achdiat Karta Mihardja (AKM), lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911 dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010. Ia pergi meninggalkan kita, tetapi karyanya tetap hidup sebagai monumen bagi perjalanan kesusastraan Indonesia. Pada tahun 2005, ia menerbitkan novel Manifesto Khalifatullah (MK). Dengan begitu, AKM satu-satunya sastrawan di dunia yang masih berkarya dalam usia lebih 94 tahun. Dalam sastra dunia, Sophocles (496-406 sebelum Masehi, dramawan Yunani klasik) menerbitkan karyanya lima tahun setelah kematiannya, dan George Bernard Shaw (1856?1950, dramawan Inggris) menerbitkan karya terakhirnya dalam usia 93 tahun. Continue reading “PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA”

Pergeseran Konstelasi Sastra Indonesia

Ahmadun Yosi Herfanda *
Republika

Munculnya kelompok-kelompok penulis dan pecinta sastra sejak awal 1990-an telah membuat kekuatan dan potensi sastra Indonesia tidak lagi terpusat di Jakarta. Konstelasi sastra Indonesia terpecah (terdekonstruksi) ke dalam kelompok-kelompok besar dan kecil yang masing-masing menyumbangkan sekaligus mencoba mempengaruhi perkembangan serta kecenderungan estetik sastra Indonesia kontemporer. Continue reading “Pergeseran Konstelasi Sastra Indonesia”

Cinta Mistikus Jalaluddin Rumi

Vino Warsono
http://filsafat.kompasiana.com/

?Kata-kata tidak lain hanyalah ?bayangan? dari kenyataan. Kata-kata merupakan cabang dari kenyataan. Apabila ?bayangan? saja dapat menawan hati, betapa mempesona kekuatan kenyataan yang ada di balik bayangan!. Kata-kata hanyalah pra-teks, aspek simpatilah yang dapat menarik hati orang pada orang lain, bukan kata-kata. Walaupun manusia dapat melihat ribuan mukjizat yang dimiliki seorang nabi atau seorang suci, hal itu tidak akan membawa keuntungan baginya sama sekali apabila dia tidak memiliki simpati kepada nabi ataupun orang suci itu. Continue reading “Cinta Mistikus Jalaluddin Rumi”

Teror yang Menyastra

Cunong N. Suraja
http://nasional.kompas.com/

Sastra teror dikenalkan oleh Putu Wijaya terutama dalam bentuk drama dan dalam kisah cerita pendek dan novelnya. Kisah kisah Putu Wijaya memang memberi tikungan dan logika yang kebalik atau istilahnya logika gila.

Seperti dalam novel “Lho” logika Putu yang selalu awas mencurigai sekelilingnya seakan-akan mengancam membunuh tokoh novel. Demikian juga dalam Novel pendek “Sobat” tokoh Aji dibunuh karena kecemburuan dan ujung kisahnya si Pembunuh tergantung di tiang listrik seakan dendeng kering. Continue reading “Teror yang Menyastra”

Dari Politik Moral hingga Cerutu

Pramono
korantempo.com

Memperingati 150 tahun Max Havelaar, Erasmus Huis, Jakarta, menggelar diskusi yang membedah novel karya Multatuli tersebut.
“Ja, aku mau dibatja! Aku mau dibatja oleh negarawan-negarawan jang berkewadjiban memperhatikan tanda-tanda zaman.”

Begitu tertulis dalam novel Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda terjemahan H.B. Jassin yang dirilis pada 1972. Novel ini ditulis Eduard Douwes Dekker, asisten residen di Lebak -dulu Jawa Barat, kini Banten. Dekker menggunakan nama samaran Multatuli yang berarti: aku telah banyak menderita. Continue reading “Dari Politik Moral hingga Cerutu”

Bahasa ยป