150 Tahun Max Havelaar

Andar Ismail
http://www.suarapembaruan.com/

Max Havelaar baru diangkat menjadi wakil residen di Keresidenan Lebak yang membawahi beberapa kabupaten di Banten. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1850-an. Sebagai orang Belanda yang baru tiba di Indonesia ia mengamati keadaan dengan tajam. Yang langsung menyita perhatiannya adalah perkebunan kopi. Continue reading “150 Tahun Max Havelaar”

Toya Bungkah, STA, dan Pak Oles

Ketut Syahruwardi Abbas
http://www.balipost.co.id/

ALMARHUM Sutan Takdir Alisyahbana, sastrawan dan budayawan besar milik Indonesia yang kini telah meninggal itu, semasa hidupnya selalu membanggakan “tempat persembunyiannya” di Toya Bungkah, Bangli. Untuk mencapai tempat indah itu, kita harus — terlebih dahulu — turun dari Penelokan, mengikuti jalan-jalan berliku di antara batu-batu besar bekas tumpahan letusan Gunung Batur yang hingga kini masih suka batuk-batuk dan mengeluarkan asap. Continue reading “Toya Bungkah, STA, dan Pak Oles”

Pelacur Dibayar Uang, Isteri Dibayar Cinta

Novel membara “Cantik Itu Luka”

Raudal Tanjung Banua
kr.co.id

MEMBACA novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ?kegilaan? nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi “muatan moral” – kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini – maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan. Continue reading “Pelacur Dibayar Uang, Isteri Dibayar Cinta”

Peta Sastra di Sekolah Sudah Mati?

Putu Satria Kusuma
http://www.balipost.co.id/

Dalam suatu kesempatan diskusi tentang sastra di sekolah, yang diselenggarakan Balai Bahasa Denpasar pada 29 Maret 2004 dalam rangka HUT ke-400 Singaraja, penulis mencoba memulai perjumpaan itu dengan pernyataan bahwa peta sastra di sekolah sudah mati. Hal ini besar kemungkinan dialami juga oleh para pengambil keputusan di pemerintahan. Continue reading “Peta Sastra di Sekolah Sudah Mati?”

Ketika Gus Mus Hijrah ke Cerpen

Satmoko Budi Santoso
suaramerdeka.com

Sekarang ini peran pelawak sudah diambil-alih oleh para politikus, dan saya menulis karena memang ingin menulis, saya tak ingin dijajah oleh isme-isme apa pun

KUTIPAN itu adalah pernyataan salah seorang Rais Nahdlatul Ulama KH A Mustofa Bisri dalam acara pagelaran baca cerpen bertajuk ”Gus Mus Hijrah ke Cerpen”, 24 Oktober, pukul 20.00, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Di hadapan lebih dari 700 pengunjung, Gus Mus mengucapkan kalimat tersebut sebagai prolog pembacaan cerpen Gus Jakfar. Continue reading “Ketika Gus Mus Hijrah ke Cerpen”

Bahasa ยป