Agus Noor *
Kompas, 24 Sep 2006
Belakangan, makin sulit kita menemukan tokoh dalam cerpen. Situasi ini bahkan sudah terasa sejak 15 tahun lalu, kira-kira. Tentu saja, dalam setiap cerpen, selalu ada tokoh, setidaknya ada nama-nama tokoh. Tetapi mereka bukan tokoh-tokoh yang memiliki karakterisasi yang kuat, atau setidaknya seperti yang dinyatakan Goenawan Mohamad, “tokoh yang mampu untuk tersisa dalam kenangan setelah kita selesai membacanya”. Tiba-tiba saya kangen sekali dengan tokoh-tokoh semacam Open (Jalan Lain ke Roma, Idrus) Inem (Inem, Pramudya Ananta Toer), Bawuk (Umar Kayam), Orez (Orez, Budi Darma), kakek penjaga surau (Robohnya Surau Kami, AA Navis), Rintrik yang buta (Jantung Tertusuk Panah, Danarto). Continue reading “Tokoh yang Menghilang dalam Cerpen”
