Tokoh yang Menghilang dalam Cerpen

Agus Noor *
Kompas, 24 Sep 2006

Belakangan, makin sulit kita menemukan tokoh dalam cerpen. Situasi ini bahkan sudah terasa sejak 15 tahun lalu, kira-kira. Tentu saja, dalam setiap cerpen, selalu ada tokoh, setidaknya ada nama-nama tokoh. Tetapi mereka bukan tokoh-tokoh yang memiliki karakterisasi yang kuat, atau setidaknya seperti yang dinyatakan Goenawan Mohamad, “tokoh yang mampu untuk tersisa dalam kenangan setelah kita selesai membacanya”. Tiba-tiba saya kangen sekali dengan tokoh-tokoh semacam Open (Jalan Lain ke Roma, Idrus) Inem (Inem, Pramudya Ananta Toer), Bawuk (Umar Kayam), Orez (Orez, Budi Darma), kakek penjaga surau (Robohnya Surau Kami, AA Navis), Rintrik yang buta (Jantung Tertusuk Panah, Danarto). Continue reading “Tokoh yang Menghilang dalam Cerpen”

Bikin Novel: Hobi yang Pantas Dilirik

Nina Setyawati, Eka Alam Sari
http://pelitaku.sabda.org/

Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu singkat. Otomatis royalti pun mengalir ke kantong pengarang. Benar-benar hobi yang pantas dilirik.

TeenLit alias teens literature makin akrab dengan kita. Paparan cerita ringan dengan dialog sehari-hari menjadi ciri yang mencolok. Meski kerap disebut buku cerita kelas dua, kalangan muda rebutan membacanya. Bahkan tak dimungkiri lagi buat penerbit, novel-novel ringan ini berada di jajaran terdepan penjualan buku. Continue reading “Bikin Novel: Hobi yang Pantas Dilirik”

Sentuhan Sufisme dalam Sastra Indonesia

Ahmad Fatoni *
Pelita.or.id

Sastra sufi atau sastra yang bercorak sufistik mulai mengemuka dalam sejarah sastra Indonesia sejak 1970-an. Hangatnya perbincangan tentang lahirnya sastra jenis ini, kala itu, tidak lepas dari kegigihan salah seorang penggiat dan pembelanya, penyair Abdul Hadi WM, yang pada 1980-an berhasil memopulerkan gaya sastra sufistik melalui berbagai bentuk tulisan.

Menurut Abdul Hadi (1985), beberapa tokoh utama sastra sufistik 1970-an, di antaranya para prosais seperti Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, dan juga para penyair seperti Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain. Continue reading “Sentuhan Sufisme dalam Sastra Indonesia”

Mencermati Humor Cerdas Winston Groom

Rohyati Sofjan
http://www.suarakarya-online.com/

Pertama kali saya kenal Forrest Gump di sobekan koran bungkus makanan, entah kala 1 atau 2 SMU. Isinya resensi film yang dimainkan Tom Hanks. Namun waktu itu saya tinggal di sudut kampung Kabupaten Garut yang jauh dari perkotaan dan sekira dua jam perjalanan dari Bandung.

Maka saya pupus ketertarikan pada isu aktual tentang film terbaik saat itu. Sampai kemudian, saya baca iklan buku di majalah Intisari tentang Forrest Gump, lalu bermimpi kelak akan bisa memilikinya. Continue reading “Mencermati Humor Cerdas Winston Groom”

Problematik Kesenian Jombang

Fahrudin Nasrulloh *

Pada hakikatnya warisan tradisi merupakan hasil proses kesejarahan manusia yang panjang bercecabang dan karenanya tak gampang dilacak jejaknya. Ikhtiar pengembangan yang kita butuhkan adalah seberapa jauh dan telaten pegiat kesenian atau seniman itu sendiri dapat memahami kesenian, tidak hanya pada tataran sekadar mencermati, namun proses “melakoni” yang berlandaskan “daya telisik” dan bukti konkrit serta keterlibatannya agar dapat terus ditumbuhkan dan disadari sebagai sebuah cermin berkehidupan yang berkebudayaan. Continue reading “Problematik Kesenian Jombang”

Bahasa »