KEGELISAHAN TANDA HIDUP

Maman S. Mahayana *

Kegairahan hidup dan semangat yang meledak-ledak! Itulah kesan yang segera muncul ketika kita pertama kali dapat mengobrol dengan sosok Sitor Situmorang. Sebagai seorang Batak, ia sangat terbuka, lugas, dan gampang diajak bicara. Semalaman kita bisa dengan enteng berdiskusi, berdebat atau berbual-bual ke sana ke mari, jika ada topik pembicaraan yang diminatinya. Gaya dan sikapnya yang terkesan sangat egaliter itu, tidak jarang bakal menyeret kita pada pusaran masalah yang disodorkannya. Continue reading “KEGELISAHAN TANDA HIDUP”

Bukan Cuma Murakami dan Pendekar Samurai

Bagja, Qaris
http://www.ruangbaca.com/

Cerita-cerita yang ditulis para pengarang utama Jepang ini merupakan rekaman Jepang yang sedang berubah.
Pada sekitar 1970-an, The Japan Foundation secara aktif mendanai terjemahan sejumlah novel Jepang yang termasyhur pada zamannya. Dengan ketelatenan Ajip Rosidi?seorang sastrawan Indonesia yang kemudian mengajar di Universitas Bahasa Asing Osaka?karya penulis Jepang yang terkenal pun mewarnai khazanah sastra terjemahan di Indonesia. Continue reading “Bukan Cuma Murakami dan Pendekar Samurai”

Pergulatan Identitas Jhumpa Lahiri

Feby Indirani
ruangbaca.com

“Dari mana asalmu?”
Jhumpa Lahiri selalu bingung bila beroleh pertanyaan serupa itu. Penanya biasanya takkan puas bila Lahiri menyatakan dirinya sebagai orang Rhodes Island, Amerika, tempat dia dibesarkan, atau London, Inggris, tempat dia dilahirkan. Pertanyaan biasanya berlanjut karena namanya yang “asing”, kulitnya yang coklat, dan ciri-ciri fisiknya yang khas kaukasoid. Tapi bila Lahiri menjawab dari India, ia sendiri merasa jawaban itu tak tepat. Continue reading “Pergulatan Identitas Jhumpa Lahiri”

Mo Yan dan ‘Posmodernisme Kampung’

Hikmat Darmawan
ruangbaca.com

Karya-karyanya bermula dari rasa lapar. Canggih, sekaligus kampungan.
Kau harus mencicipi kepahitan hidup. Baru setelah itulah kau bisa menulis.
(Mo Yan, wawancara)

Kenzaburo Oe, pemenang Nobel Sastra 1994, haqul yakin bahwa Mo Yan adalah pengarang Cina yang pantas memenangi Nobel Sastra. Apakah Mo Yan lebih pantas daripada Gao Xinjian, pemenang Nobel Sastra 2000? The Economist (2001) setidaknya meragukan apakah Gao cukup mewakili perkembangan mutakhir sastra Cina. Continue reading “Mo Yan dan ‘Posmodernisme Kampung’”

PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Lawen Newal yang kiprah kepenyairannya juga dikenal dengan nama Junewal Muchtar adalah salah seorang penyair penting Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Meski begitu, kiprah kepenyairannya telah memantapkan dirinya, bahwa sosok Lawen Newal adalah penyair yang di kawasan Riau, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, mempunyai tempat tersendiri yang kokoh?kuat. Dua karya sebelumnya, Batu Api (1999) dan Perjalanan Darah ke Kota (2003) memperlihatkan kegelisahannya dalam tarik-menarik masa lalu puak Melayu yang ditaburi puisi-puisi tradisional yang tiada henti terus mengalirkan tradisi, di satu sisi, dan perubahan sosial dalam arus perkembangan zaman pada sisi yang lain. Continue reading “PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL”

Bahasa ยป