Bukan Cuma Murakami dan Pendekar Samurai

Bagja, Qaris
http://www.ruangbaca.com/

Cerita-cerita yang ditulis para pengarang utama Jepang ini merupakan rekaman Jepang yang sedang berubah.
Pada sekitar 1970-an, The Japan Foundation secara aktif mendanai terjemahan sejumlah novel Jepang yang termasyhur pada zamannya. Dengan ketelatenan Ajip Rosidi?seorang sastrawan Indonesia yang kemudian mengajar di Universitas Bahasa Asing Osaka?karya penulis Jepang yang terkenal pun mewarnai khazanah sastra terjemahan di Indonesia.

Nama-nama seperti Kawabata Yasunari, Akutagawa Ryunosuke, Mishima, Soseki bisa dibaca tak lagi sekadar nukilan esai-esai membahas perkembangan sastra Jepang. Ajip menerjemahkan novel- novel itu langsung dari bahasa Jepang. Sementara Asrul Sani dan sejumlah penerjemah lainnya memakai terjemahan bahasa Inggris.

Cerita-cerita yang ditulis para pengarang utama Jepang ini merupakan rekaman Jepang yang sedang berubah. Maka para tokohnya itulis dengan gaya tradisional Jepang?kimono dan kain yang menjuntai?mirip serial Oshin. Ajip menyebut para penulis zaman ini sebagai ?pujangga baru Jepang?. Mereka mengenalkan gaya baru dalam penulisan novel di Jepang yang waktu itu didominasi oleh naturalisme akuan dengan seks yang dominan.

Kawabata dengan bahasa yang liris dan puitis?karena itu perlu renungan untuk mencerna setiap ceritanya?menulis perubahan sosial Jepang menuju zaman kapitalisme. Dalam Negeri Salju, Kawabata bahkan menulis kisah cinta seorang penjaga peron dan seorang penari tanpa memakai plot. Akutagawa lebih terkenal sebagai penulis cerita pendek.

Dalam Belukar dialihkan ke dalam pita seluloid oleh empu perfilman Jepang Akira Kurosawa. Film ini memenangkan pelbagai penghargaan dan menjadi film pertama Jepang yang diperhitungkan di Eropa. Kurosawa memakai Rashomon, cerita pendek Akutagawa ainnya, sebagai judul film ini. Cerita pendek ini merupakan kisah yang tak selesai.

Kematian seorang pedagang di sebuah hutan kecil tetap misteri kendati rohnya telah dipanggil memberi kesaksian. Setiap saksi dan pelaku bersaing menyampaikan versi kematian itu. Kebenaran, dalam cerita ini, tak jelas bersarang dalam versi yang mana. Akutagawa mengemas ceritanya dalam bentuk humor, kadang- kadang juga satir.

Cerita-cerita pendeknya sarat dengan pesan filosofis lewat laku tokoh yang jenaka. Cerita pendek Hidung atau novelanya Kappa menjungkirbalikkan nilai-nilai yang sudah menjadi pemahaman umum. Jika penulis lain bermegah diri dengan semangat Barat, Akutagawa melarikan diri pada tema-tema folklor dan legenda. Agaknya, di sinilah kekuatan pengarang yang mati muda ini.

Sementara Mishima menulis cerita-cerita yang reflektif. Ia memungut tema-tema kecil tentang kematian dan pencarian. Mishima makin terkenal setelah ia melakukan seppuku, sebuah ritual bunuh diri lewat adegan teater yang spektakuler. Ia menyiapkan ritual itu, lalu menyerbu sebuah markas tentara, berpidato di ketinggian tentang kemunduran nilai-nilai Jepang, diakhiri dengan merobek sendiri kulit perutnya.

Terakhir anak buahnya diminta memenggal kepalanya. Itu terjadi tahun 1972, di depan orang banyak. Penulis Jepang masa itu memang gemar mengakhiri hidup dengan harakiri. Kawabata juga tercatat sebagai penulis yang mati menyedot gas di dalam kamarnya pada usia 73. Jepang pada masa Taisyo adalah Jepang yang sedang mencercap rasionalisme Barat.

Karya-karya penulis Eropa dan Rusia yang terkenal masuk ke Jepang dalam jumlah yang melimpah. Para penulis yang umumnya menyelesaikan pendidikan tinggi ini menyerap habis gaya dan cara bertutur para penulis Barat itu. Sayangnya, penerjemahan novel- novel masa Taisyo ke bahasa Indonesia ini tidak berlanjut ke generasi sastra Jepang berikutnya, generasi yang lebih moderrn, generasi setelah perang.

Terutama Generasi Ketiga. Meski berusia amat singkat (1953- 1955), namun Generasi Ketiga dianggap sebagai puncak sastra Jepang modern. ?Saat itu, meski kami telah menerima Akutagawa Prize berkalikali, sangat sulit bagi siapa pun untuk dapat mengklaim diri sebagai seorang penulis besar,? kata Shusaku Endo dari generasi itu.

?Kami begitu gampang dilupakan dalam lautan dunia sastra.? Karya-karya mereka diakui dunia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa. Selain Shusaku yang memiliki Woderful Fool tentang seorang Prancis yang datang ke Jepang setelah Perang, masa itu juga memiliki Shotarou Yasuoka, Jun?nosuke Yoshiyuki, Junzou Shouno, Shumon Miura, Ayako Sono, dan Hiroyuki Agawa.

Sayangnya karya- karya mereka tidak begitu dapat dinikmati di sini. Padahal, karya-karya penulis dari Generasi Pasca Perang baik dari Generasi Ketiga atau lainnya, adalah karya yang lebih realis, mudah dikunyah karena batas budaya sudah mulai runtuh, dan beragam. Kecuali Generasi Pertama yang masih terpengaruh dampak Perang, karya mereka lainnya adalah tentang kehidupan modern yang universal.

Misalnya saja para penulis era 1960-an hingga 1980-an yang identik dengan masalah-masalah intelektual dan moral yang terjadi sebagai konsekuensi dari berkembangnya sosial-politik di negeri itu. Salah satunya adalah Kenzaburo Oe yang menulis A Personal Matter pada 1964 dan menjadi penulis Jepang kedua yang menerima Nobel Sastra.

Salah satu novel Kenzaburo The Silent Cry diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Jeritan Lirih (Jalasutra).Panitia Nobel Sastra menganggap novel ini sebagai karya utama Kenzabura. Menurut mereka, novel tersebut mampu mengurai hubungan antar manusia di dunia yang kompleks dan sulit.

Novel ini penuh kisah petualangan dengan konflik yang intens, narasi yang kaya, hubungan antar para tokoh yang naik turun, cara pandang yang tidak umum. Berbicara soal trauma, kekecewaan, dan keluar dari kekalutan dengan cara yang berbeda. Ada pun penulis avant-garde seperti Kobo Abe yang menulis sejumlah novel fantastis seperti Woman in the Dunes (1960), ingin mengekspresikan pengalaman masyarkat Jepang dalam mengembangkan visi spiritual mereka di dunia modern tanpa menggunakan gaya Barat.

Namun kehidupan modern seperti di Barat tampak dalam novel- novel Yoshikichi Furui. Ia menceritakan sejumlah cerita yang bertaut-tautan dari kehidupan masyarakat urban Jepang yang saling terasing. Tentu, ia juga menangkap krisis dan psikodrama dalam menjalankan kehidupan sehari-hari mereka.

Masalah psikologi yang kompleks yang dihadapi oleh perempuan modern ditangkap oleh Shizuko Todo dalam Ripening Summer yang memenangkan Naoki Prize pada 1988. Di antara pengarang generasi ini, yang paling populer belakangan ini di Indonesia adalah Haruki Murakami. Novel pertamanya yang mencuri perhatian dunia luar, Norwegian Wood, diterjemahkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, dan cukup diminati.

Novel-novelnya yang masih dalam terjemahan Inggris seperti Kafka pun laris di sini. Kekuatan Murakami terletak pada gaya bahasa dan plot yang sederhana, namun memiliki kekompleksan pada detil kejadian dan karakter tokoh-tokohnya. Ceritanya sangat mudah untuk diikuti, tapi tidak mungkin ditebak.

Obrolan tokoh-tokohnya tentang hal-hal yang remeh temeh, tapi mencengangkan dan berbobot. Tokoh novelnya adalah orang kebanyakan yang bisa ditemui di jalanan, tapi kepribadian mereka tidak ada yang tipikal. Trauma masa lalu mereka selalu muncul, meski sang tokoh adalah seorang periang yang tak mau tahu.

Murakami selalu bicara tentang orang Jepang, tentang masyarakat modern negeri itu dengan segala masalahnya. Meski bicara tentang Jepang, namun karya Murakami gampang kita cerna. Ini karena ia bercerita tentang hal yang sama yang mungkin bisa didapati di Jakarta, London, atau pun kota besar mana pun di dunia.

Selain itu, meski ayah ibunya adalah guru sastra Jepang dan kakeknya adalah sastrawan terkenal zaman Meiji, namun Murakami sejak kecil akrab dengan dunia luar Jepang, terutama musik dan sastra Barat. Tak heran jika kemudian sejumlah novelnya mengambil nama dari judul lagu terkenal seperti Norwegian Wood dari Beatles, dan Dance, Dance, Dance dari The Dells.

Selain sebiji novel Murakami dan Kenzaburo Oe, hampir tidak ada novel tentang kehidupan masyarkat modern Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia setelah gelombang penerjemahan era 1970-an. Di antara yang sedikit itu menyempil Toto Chan, Gadis di Jendela. Kisah ringan tentang dunia pendidikan lewat mata gadis kecil yang menggemaskan.

Di luar itu, yang diterjemahkan kebanyakan (tidak terlalu banyak juga, sebenarnya) adalah novelnovel epik masa lalu seperti Mushashi oleh Eiji Yoshikawa dan serial Samurai dari Takashi Matsuoka. Ada juga novel horor Ring dari Koji Suzuki yang filmnya amat dikenal di sini. Sastra Jepang, pada hakikatnya, amat kaya.

Banyak hal beragam bisa dibaca darinya. Dan tak perlu takut kehilangan konteks. Dunia mereka, seperti juga dunia modern pada umumnya, dapat kita rasakan dari sini. Jepang, bukan cuma tentang Murakami dan pejuang samurai yang menghunus pedang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *