Sastra Kita dalam Pergaulan Metropolis

Donny Anggoro *
nasional.kompas.com

Dalam lingkup pergaulan metropolis yang riuh tiba-tiba ada “kesepakatan” bahwa tema sebagian besar karya sastra baru jadi memusat dalam setting yang nyaris sama, yaitu kota sehingga ia tak penting lagi berasal dari suatu negara. Imam Muhtarom dalam esainya Kasus Sastra Amerika Latin (Kompas, 9 April 2006) menulis Amerika Latin, negeri yang menjadi komoditas budaya lewat karya-karya Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Carlos Fuentes, dan lain-lain (termasuk ke Indonesia) tak lagi booming realisme magis. Imam lalu mengemukakan pernyataan: jika arus global tak terbendung dengan menjadi serba metropolis, bisakah muncul estetika baru atau hanya sampah? Continue reading “Sastra Kita dalam Pergaulan Metropolis”

Nasib Perempuan yang Terpinggirkan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Sejak terbitnya novel tebal Merajut Harkat karya Putu Oka Sukanta ( 1999) maka sedikit-demi sedikit muncul buku-buku lain baik novel atau laporan dari orag-orang yang merasa terpinggirkan (subaltern), yang sering disebut sisa-sisa G30 S seperti buku Aku Eks Tapol tulisan Hersi Setiawan. Mereka menanggung stigma eks PKI atau eks Tapol dan dianggap berbahaya sebab dikira bisa meracuni generasi muda dengan pikiran-pikirannya. Continue reading “Nasib Perempuan yang Terpinggirkan”

Nilai Budaya dalam Bahasa Gambar Garin Nugroho

Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah diskusi tentang televisi, seorang peserta melontarkan pertanyaan. Kegelisahan yang dilontarkan adalah, kenapa belakangan ini, iklan televisi mempunyai tren yang sama. Tren dalam mengemas bahasa visual yang sama.

Semuanya nampak seragam. Ujung-ujungnya menyepakati, bahwa iklan televisi yang acapkali muncul belakangan ini, agaknya mengambil teknis tutur gambar yang sama. Pengambilan angle camera, hampir seragam. Continue reading “Nilai Budaya dalam Bahasa Gambar Garin Nugroho”

Mata Sastra Tak Melirik Mata Uang?

Binhad Nurrohmat
http://cetak.kompas.com/

Ada ungkapan dalam khazanah tradisi Jawa: sugih tanpa banda (kaya tanpa harta). Rasa ungkapan itu ?non-materialistik? dan kontradiktif sebab makna umum ?kaya? identik dengan ?harta?. Ungkapan bervisi etika itu bagi common-sense modern bisa dianggap cuma pelipur kemelaratan atau dalih ?romantisme kemiskinan?. Dalam konteks sejenis, ada ungkapan lain dalam khazanah tradisi kita yang dianggap ?realistik? bagi nalar modern lantaran bervisi pragmatis: kalau ada uang di pinggang, dunia sempit menjadi lapang. Continue reading “Mata Sastra Tak Melirik Mata Uang?”

Pengajaran Sastra Masih “Diomprengkan”

Gunoto Saparie *
suarakarya-online.com

HARUS diakui, program pengajaran apresiasi sastra Indonesia yang dipadukan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masih kurang menarik bagi para siswa. Penyebab kurang menariknya pelajaran apresiasi sastra Indonesia di antaranya cara guru mengajar yang tidak memotivasi siswa, kurang akrabnya siswa dengan karya sastra. Hal itu disebabkan kurang terbinanya pengajaran apresiasi sastra Indonesia dengan baik. Continue reading “Pengajaran Sastra Masih “Diomprengkan””

Bahasa ยป