Lembaga Pemantau Plagiarisme?

(catatan tambahan untuk M. Mushthafa)
Aminudin Rifai*
http://www.jawapos.co.id/

PLAGIARISME dan komunitas akademik yang sekarat sebetulnya adalah persoalan yang sudah usang dibicarakan, keprihatinan yang sudah endemis, tapi sampai sekarang kita tidak bisa juga mencarikan jawaban untuk mengobatinya. Belum lagi jika kita juga digelisahkan oleh makin banyaknya para akademisi yang lebih silau dunia politik praktis. Apakah itu berarti tengah terjadi disorientasi tradisi di masyarakat keilmiahan Indonesia? Continue reading “Lembaga Pemantau Plagiarisme?”

PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA

Maman S. Mahayana *

Pertemuan penyair se-Sumatera (Aceh, Babel, Bengkulu, Jambi, Kepri, Lampung, Riau, Sumbar, Sumsel, Sumut) di Bengkalis, 17—19 Januari 2003, memperlihatkan, betapa sesungguhnya Sumatera masih menyimpan potensi yang kaya dan berlimpah. Kepenyairan Sumatera yang pernah mendominasi perjalanan sastra Indonesia sebelum dan awal merdeka –seperti yang pernah dibangun sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga ke nama-nama Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, dan sederet panjang nama lain—sangat mungkin kini akan bangkit kembali. Continue reading “PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA”

Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi

Bandung Mawardi *
lampungpost.com

AMIR Hamzah menjadi penyair awal yang fasih menuliskan sunyi dalam religiositas dan kisah cinta. Buku puisi Nyanyi Sunyi (1935) adalah babak penting dalam perpuisian Indonesia modern yang intens mengisahkan sunyi.

Amir Hamzah menuliskan pengertian: Sunyi itu duka/Sunyi itu kudus/Sunyi itu lupa/Sunyi itu lampus. Continue reading “Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi”

Bahasa »