Menulis; Mendidik Otak dan Tangan

Ahmad Taufiq
http://www.jawapos.com/

BAGAIMANA cara mendidik hati, otak, dan tangan (HOT) -istilah lain untuk menulis- yang baik? Apakah ”dipaksa” alias by design atau dibiarkan mengalir, natural. Rasanya, pertanyaan ini cukup sulit dijawab. Sebab, masing-masing mempunyai kelebihan. Tapi, menurut Arswendo Atmowiloto – budayawan yang ketika memimpin sebuah tabloid bilang bahwa menulis itu gampang- jangan dipaksa dan biarkan mengalir apa adanya. Continue reading “Menulis; Mendidik Otak dan Tangan”

Penggusuran dalam sebuah Pentas Teater

Denny Mizhar

Setan ora doyan
Demit ora dulit
Banyak orang mabuk duwit
Njarah milik banyak orang

Dimulai dengan pengucapan mantra di atas, lampu sedikit mulai mencahayai pentas. Berdiri lima patung dan seorang sedang memimpin ritual serta dua orang mengikutinya. Sebuah hal biasa kita jumpai, jika sebagian masyarakat kita, meminta bantuan dukun untuk menyelesaikan permasalahannya. Tetapi yang menjadi sesembahan mereka adalah patung pejuang, dengan adanya ritual tersebut patung-patung tersebut tidak terima. ?Bukannya di lanjutkan perjuangannya tetapi di sembah dengan meminta permintaan-permintaan yang tidak rasional? dialog para patung monumen. Continue reading “Penggusuran dalam sebuah Pentas Teater”

EKSORDIUM RATU ADIL: BAHASA MENGGERAKKAN JIWA

Nurel Javissyarqi
http://media-lamongan.blogspot.com/

?Tulisan sastra-filsafat tidak perlu dipertanggungjawabkan!?
Pendapat itu terlontar dari seorang pendidik di sebuah universitas daerahku, lulusan S3. Guru sewaktu aku dibangku sekolah menengah pertama. Insan cerdas yang mengagungkan profesi, sebab di atas rata-rata penduduk tempat tinggalnya. Tapi mahasiswanya tak banyak baca, aku kerap duduk-duduk bersantai di toko buku dekat kampusnya, hanya satu-dua datang melihat. Padahal buku di sana tersedia lumayan pun murah. Masyarakat belum suka baca, meski sudah bisa membaca, lantas buat apa sejak kecil sekolah sampai perguruan tinggi? Continue reading “EKSORDIUM RATU ADIL: BAHASA MENGGERAKKAN JIWA”

DICARI: KRITIK(US) SASTRA INDONESIA

Saut Situmorang

Bukankah sangat memalukan bahwa kritikus Belanda A Teeuw sampai pernah menulis sebuah esei berjudul “Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi” di mana dia melaporkan tentang “rasa heran”nya atas hasil “analisis” dua sajak modern Indonesia oleh sekelompok dosen sastra kita yang tak satupun berhasil memuaskannya! Walaupun Teeuw mengatakan tidak bermaksud mengkritik “mutu” analisis para dosen sastra kita atas sajak “Salju” Subagio Sastrowardoyo dan “Cocktail Party” Toeti Heraty tersebut, dan Continue reading “DICARI: KRITIK(US) SASTRA INDONESIA”

Bahasa »