INDONESIA-INGGRIS

Saut Situmorang

Di sebuah koran daerah, dalam kolom bertajuk “Gaya Hidup”, saya membaca sebuah laporan menarik tentang pemakaian bahasa Indonesia terkini yang penuh didekorasi kata-kata bahasa Inggris. Menarik karena saya baru tahu setelah membaca laporan tersebut betapa parahnya sudah gejala gado-gado Indonesia-Inggris ini dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari terutama di kota-kota besar Indonesia. Tapi saya juga merasa geli membaca contoh-contoh bahasa Indonesia-Inggris yang disebutkan dalam laporan tersebut. Berikut ini saya kutipkan dua contohnya: Continue reading “INDONESIA-INGGRIS”

DOKTOR BIOLOGI YANG JADI SASTRAWAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Profesi sastrawan di Indonesia, barangkali termasuk profesi yang unik. Taufik Ismail dan Asrul Sani, misalnya, adalah dokter hewan yang kiprahnya justru menonjol lantaran profesi kesastrawanannya. Putu Wijaya adalah sarjana hukum yang selain tak pernah menempelkan gelar di belakang namanya, juga popularitas dan aktivitasnya lebih banyak berurusan dengan kesusastraan. Demikian juga, sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah guru yang kemudian lebih banyak menekuni bidang sastra. Continue reading “DOKTOR BIOLOGI YANG JADI SASTRAWAN”

Menulis dan Konsekuensi

Bandung Mawardi
http://www.suaramerdeka.com/

INI cerita tentang sebuah komunitas penulis. Kabut Institut (Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan) didirikan pada 18 Januari 2006. Komunitas ini mengimani dan mengamini kerja kultural dengan membaca, menulis, dan diskusi.

Kerja awal dilakoni dengan kegandrungan melakukan pembacaan dan penilaian atas sekian esai, puisi, novel, buku, atau risalah untuk mengolah kompetensi intelektual. Continue reading “Menulis dan Konsekuensi”

Modernitas yang Dilecut Kartini

Misbahus Surur*
http://www.lampungpost.com/

KARTINI lahir dan besar dalam lingkup keluarga ningrat Jawa yang feodalis. Alur hidupnya dikerubungi tarikan norma serta konvensi yang sering eksploitatif, terutama pada persoalan gender. Hampir-hampir perempuan tak punya andil, lebih lagi nyali untuk menyibak jalur terang sendiri.

Perempuan kerap dijerat patriarki, dicengkram hegemoni lelaki. Perempuan di zaman itu, kata Siti Soemandari Soeroto dalam Kartini; Sebuah Biografi (Gunung Agung: 1982) karena akar dan konstruk budaya, sangat bergantung sepenuhnya pada nafkah suami, dengan dalih takut dicerai dan sejenisnya. Continue reading “Modernitas yang Dilecut Kartini”

Bahasa »