Sastra tanpa Beban

Afri Meldam
http://www.padangekspres.co.id/

Dalam konteks kekinian, karya sastra tak bisa lepas dari sistem kapitalisme. Tanpa dukungan pemilik modal, kecil kemunginan sebuah karya sastra bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Ketika masuk ke dalam lingkar kuasa kapitalisme, karya sastra tak lain adalah komoditas industri yang mau tak mau harus mendatangkan keuntungan bagi kaum pemilik modal yang mendanai pengadaan karya tersebut. Continue reading “Sastra tanpa Beban”

KSJ Tidak Menandingi KBJ

Bonari Nabonenar*
http://www.jawapos.com/

Tulisan ini akan lebih bersifat klarifikasi dalam konteks pertentangan yang dikesankan antara Kongres Sastra Jawa (KSJ) dan Kongres Bahasa Jawa (KSJ) sekaligus menggarisbawahi salah satu usul Kepala Balai Bahasa Jogjakarta Tirto Suwondo dalam tulisannya bertajuk Kongres Bahasa Jawa V (Jawa Pos, Minggu, 21 Maret 2010). Continue reading “KSJ Tidak Menandingi KBJ”

Bagaimana Para Cacah Diisap

A.S. Laksana *
jawapos.com

Pada suatu masa sebelum penjajahan, raja dalam masyarakat Jawa tradisional memiliki kedudukan sebagai pusat ketatanegaraan dan posisinya nyaris bersifat ilahiah. Sementara itu manusia jelata memiliki nilai ekonomis dalam pengertian bahwa ia nyaris serupa dengan binatang ternak. Keduanya, manusia dan ternak, sama-sama bisa diperas. Hanya saja, manusia sedikit lebih unggul dibandingkan dengan kerbau atau kambing atau ayam. Anda tahu, manusia bisa menari, melontarkan tombak, mengayunkan pedang atau parang. Continue reading “Bagaimana Para Cacah Diisap”

Estetika Para Perupa Komik

Afnan Malay *
jawapos.com

Pada 22-30 Maret lalu, bertempat di Galeri Nasional, Jakarta, Andi’s Gallery menjadi tuan rumah pameran bertajuk The Comical Brothers. Sebanyak 22 perupa -seharusnya 25, tetapi Samuel Indratma, Ahmad Thoriq, dan Decky Leos berhalangan- dikuratori Bambang “Toko” Witjaksono dan Grace Samboh memajang aneka rupa karya komikal. Antusiasme pengunjung, umumnya anak-anak muda, tampak saat pembukaan pameran itu. Continue reading “Estetika Para Perupa Komik”

BAHRUM RANGKUTI: ANGKATAN 45 YANG TERLUPAKAN

Maman S. Mahayana *

Selama ini, pembicaraan mengenai sastrawan Angkatan 45 selalu terfokus pada diri Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Ketiga penyair inilah yang kita kenal lewat antologi puisinya, Tiga Menguak Takdir (1948). Mereka pula yang menyatakan sikap berkeseniannya dalam Surat Kepercayaan Gelanggang yang dimuat dalam majalah Siasat, 23 Oktober 1950. Sastrawan Angkatan 45 lainnya, dapatlah disebutkan beberapa di antaranya, Achdiat Karta Mihardja, Idrus, M. Balfas, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Sitor Situmorang, Usmar Ismail, El Hakim, Rosihan Anwar, dan Utuy Tatang Sontani. Continue reading “BAHRUM RANGKUTI: ANGKATAN 45 YANG TERLUPAKAN”

Bahasa ยป