Rumah Puisi Taufiq Ismail

Ahmad Syafii Maarif
http://www.republika.co.id/

Siapa yang tak kenal TI (Taufiq Ismail), kelahiran 1935, adalah dokter hewan sebagai latar belakang pendidikan universitas, tetapi habitatnya ternyata bukan di sana. Kita tidak tahu apakah TI masih tertarik melihat jenis-jenis hewan yang digelutinya selama kuliah di IPB. Secara luas TI dikenal sebagai penyair, sastrawan papan atas di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara. Sesungguhya TI adalah penerus pendahulunya, Dr Abu Hanifah, dokter obat, dan Asrul Sani, juga seorang dokter hewan. Abu Hanifah adalah seorang novelis, sekalipun karyanya tidak terlalu menonjol di ranah ini. Continue reading “Rumah Puisi Taufiq Ismail”

MENYUSURI SERAT KALA TIDA MELALUI PUISI ATHAN

Nurel Javissyarqi

Dapat dikatakan hampir seluruh diriku, memulai mengeluarkan tulisan dari tubuh dengan sugesti. Di sinilah sebuah cara memunculkan nilai puitik yang bergelayutan dengan ringan. Kala melangkahkan segala kenangan, ingatan pun gejolak jiwa terus menggemuruh berharap dihaturkan melalui kalimah-kalimah. Pada lain tempat aku pernah mengatakan, sugesti suci ialah cinta.

Seolah kata-kataku, anak yang kulayarkan ingin selalu dimanja, apalagi saat perbaikan atau revisi. Berbondong dengan wajah riang memohon dimandikan dengan air kembang pengertian dalam bau-bauan harum wewarna di ruangan. Continue reading “MENYUSURI SERAT KALA TIDA MELALUI PUISI ATHAN”

SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT…

Membaca, Memahami dan Memaknai…

IBM. Dharma Palguna
balipost.com

SAYA membulak-balik halaman demi halaman sebuah buku tua, berjudul: Taman Sari: Papoepoelan Gending Bali. Di bawah judul itu ada keterangan berbunyi: ”Kapoepoelan Antoek I Wajan Djirne miwah I Wajan Roema.”

Dari segi isi, buku ini luar biasa. Memuat berbagai lagu-lagu Bali jaman dahulu yang tidak banyak lagi diketahui oleh masyarakat umum. Seluruh syair lagu ditulis dalam aksara Latin, dilengkapi dengan nang-ning-nung-neng-nong dalam aksara Bali. Tapi keadaan fisik buku itu sangat memperihatinkan. Lusuh. Semua halaman terlepas. Warna kertasnya sudah menyerupai warna tanah. Continue reading “SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT…”

Dari Masa Roro Mendut hingga Masa Kontemporer

Tembakau sebagai Penawar Ketidakadilan

S. Jai*
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

DOKUMENTARI dengan penekanan sudut pandang humanis (feature) seringkali dianggap sebagai kegagalan film dokumenter. Lalu mengapa saya justru tergelitik menawarkan feature? Salah satunya saya berhasrat menggarap estetika yang tak sepenuhnya feature tetapi juga tanpa meninggalkan esensi dokumenternya yaitu fakta, data, tulisan, artefak demi mempertahankan objektivitas pesan. Film Pita Buta berkisah tentang semangat narator menyelidik alur cukai rokok di Kediri. Continue reading “Dari Masa Roro Mendut hingga Masa Kontemporer”

Kapitalisme dan Zaman yang Psikopatik

Ridwan Munawwar*
http://www.jawapos.com/

KITA hidup di tengah zaman yang psikopatik. Suatu kurun waktu saat ancaman penyakit jiwa selalu mengintai dan datang tak terduga. Sejarah kejiwaan manusia, tampaknya, bergerak seperti medan magnetik, lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Kecanggihan zaman yang membawakan dinamika positif dalam kejiwaan manusia ternyata di sisi lain yang berseberangan juga diimbangi oleh ledakan patologi; timbulnya negativitas dan anomali-anomali kejiwaan yang semakin menemukan bentuknya yang paling tak lazim, ekstrem, dan mengerikan. Continue reading “Kapitalisme dan Zaman yang Psikopatik”

Bahasa ยป