Rumah Puisi Taufiq Ismail

Ahmad Syafii Maarif
http://www.republika.co.id/

Siapa yang tak kenal TI (Taufiq Ismail), kelahiran 1935, adalah dokter hewan sebagai latar belakang pendidikan universitas, tetapi habitatnya ternyata bukan di sana. Kita tidak tahu apakah TI masih tertarik melihat jenis-jenis hewan yang digelutinya selama kuliah di IPB. Secara luas TI dikenal sebagai penyair, sastrawan papan atas di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara. Sesungguhya TI adalah penerus pendahulunya, Dr Abu Hanifah, dokter obat, dan Asrul Sani, juga seorang dokter hewan. Abu Hanifah adalah seorang novelis, sekalipun karyanya tidak terlalu menonjol di ranah ini.

Akan halnya Asrul, sastrawan generasi Chairil Anwar, yang oleh HB Jassin digolongkan sebagai Sastrawan Angkatan 45. Menurut Ajip Rosidi, Asrul bukan saja sastrawan dalam arti yang terbatas, tetapi juga seorang intelektual yang berpikir tajam.

Agak sedikit berbeda dengan Asrul, TI adalah penyair dengan intuisi sedalam lautan yang terdalam. Hampir seluruh puisi yang ditulisnya memantulkan serba kedalaman itu. Tidak hanya sampai di situ, TI adalah seorang humanis yang tak tega melihat manusia menderita. Air matanya akan mengalir deras saat penderitaan itu ditatapnya secara langsung atau melalui perenungan. TI menjelaskan bahwa baginya puisi adalah ekspresi segala-galanya. Tahun 1965 TI menulis:

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.

Apakah RP (Rumah Puisi) itu? Menurut TI, RP adalah gabungan dari perpustakaan, tempat pelatihan guru bahasa dan sastra, sanggar siswa membaca buku dan berlatih menulis, tempat sastra Indonesia dan Minangkabau diapresiasikan, dan sastrawan berinteraksi. Tujuannya adalah untuk peningkatan mutu anak bangsa dalam budaya membaca buku, dan kemampuan menulis sehingga manjadi terpelajar, bermartabat, dan dinaungi ridha Ilahi. Mengapa disebut RP? Jawabannya ada dalam rumusan TI: Seluruh karya sastra memiliki keindahan puitiknya masing-masing. Istilah puisi menjadi kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra.

RP yang ditata sangat rapi dan puitik baru saja rampung dibangun TI bersama Ati Ismail, istrinya, seorang pengusaha. Lokasinya di Nagari Aie Angek, 6 km di sebelah utara Padang Panjang, 11 km di selatan Bukittinggi, di antara kaki Gunung Singgalang dan kaki Gunung Merapi, dalam Kabupaten Tanah Datar. Dalam sajak yang ditulisnya Desember 2008 dengan judul “Dua Gunung Kepadaku Bicara”, pada bagian akhir TI bertutur:

Kepada dua gunung kuualang tanya
Berjawab lewat desah jutaan daun rimba raya
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya:
Bertanyalah kepada Yang Di Atas Sana.

Terasa dalam bait ini betapa kukuh dan dalamnya iman seorang Taufiq Ismail. Sebuah iman yang digumulkan dengan realitas telah mengilhaminya untuk menulis ribuah halaman puisi dan prosa dalam rentang waktu sejak usia sekolah.

TI adalah pribadi gelisah dan sangat gelisah dalam mengamati anak-anak bangsa, hanya sedikit yang hirau dengan masalah bahasa dan sastra, sumber kehalusan jiwa dan kearifan kultural. Itulah sebabnya selama 10 tahun (1998-2008) TI telah melatih sekitar 2.000 guru dalam program MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) enam hari di 11 kota dengan melibatkan tim 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris. Mereka memasuki 213 SMA untuk membacakan karya sastra dan bertanya-jawab dengan siswa dan guru di 164 kota di 31 provinsi dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya).

Bung Taufiq, Anda telah bertungkus-lumus selama puluhan tahun melalui kegiatan bahasa dan sastra agar bangsa ini mau membangun peradaban dengan mutu tinggi lahir-batin, agar kebringasan politik, sosial, dan ekonomi tidak berlanjut di sebuah negara yang menganut filosofi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Saya percaya dalam bilangan abad yang akan datang, selama bangsa dan negara ini masih bertahan, semoga akan bertahan sangat lama, karya Anda akan selalu dikenang, dikaji, sebagai sumber inspirasi yang tak kan kering. Selamat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *