Narasi Sastra Religius

Hamdy Salad

Segala sastra, baik puisi maupun prosa, tak pernah lahir dari ruang hampa. Selalu saja tersirat di dalamnya jejak-jejak kehidupan manusia. Jejak-jejak yang dapat dibaca secara estetis melalui kenyataan psiko-individual, sosio-kultural, dan religio-spiritual. Itu sebabnya dalam dinamika sejarahnya sampai kini, banyak definisi dan istilah sastra yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya apa yang sering disebut dengan – sastra religius. Continue reading “Narasi Sastra Religius”

Menziarahi Karya-karya Sang Maestro

Sri Wintala Achmad

Manakala bertandang ke rumah seorang kawan, perhatian saya terserap habis pada coretan-coretan liar dan naïf di dinding ruang tamu yang membentuk gambar binatang, mobil, kapal terbang, atau orang. Tanpa bertanya pada kawan tersebut, perkiraan saya tidak bakal meleset. Gambar-gambar itu pasti karya anak-anaknya. Manusia-manusia kecil yang mulai membutuhkan penghargaan atas karya-karyanya, serta pengakuan eksistensinya dari lingkup internal (orang tua dan keluarga) atau lingkup eksternal (orang luar).
Continue reading “Menziarahi Karya-karya Sang Maestro”

SASTRA DEVELOPMENTALISTIK DAN ECRETURE PENYAIR PEREMPUAN

Ahmad Muchlish Amrin

Robert Pinsky, demikianlah nama penyair Amerika yang pernah menjadi poet laureat, ia menurunkan sebuah idealitas bahwa karya sastra (puisi) tidak hanya barisan kata pilihan yang berat membawa kata-kata, melainkan karya sastra juga membawa setangkup makna, sejarah, idealitas dan wawasan humanistik diluar lajur “kepentingan” personal atau kelompok. Bagi Robert, menikmati sastra (puisi) seperti menikmati suara, musik, tanpa mengetahui pengetahuan khusus yang secara ilmiah mengkaji sastra seperti hermeneutika, semiotika yang dapat digunakan untuk menginterpretasi karya sastra. Continue reading “SASTRA DEVELOPMENTALISTIK DAN ECRETURE PENYAIR PEREMPUAN”

SASTRA DAN PETA YANG (TAK) USAI TERBACA

Semacam Testimoni dalam Benderang Kenangan
Y. Wibowo

“Ketimbang menemukan dunia, kita menciptakannya.”
(Nelson Goodman).
Karya sastra dapatlah diandaikan serupa peta penuh tanda dan penanda. Dalam membaca dan menikmati kita dapat menjadi turis, pelesiran disepanjang alur dan maknanya. Hanya saja di sisi lain, munculnya sebuah pemaknaan atau tafsir terhadap karya sastra juga biasanya muncul beriringan dalam menikmati karya sastra tersebut. Namun, sebagai awam –jika berkehendak, keinginan untuk terus membaca karya sastra (apapun namanya) hingga selesai, menikmati sentuhannya hingga tuntas, gigil-sunyi karena dicubit kenangan yang terpendam dalam karya yang terbaca, atau terus bernostalgia atas kampung halaman; tentang pacar lama, panorama alamnya, atau artefak-artefak tatanan sistem para penghuninya yang seiring waktu telah berubah menjadi angkuh dan kian purba.

Continue reading “SASTRA DAN PETA YANG (TAK) USAI TERBACA”

SELIR, OH… SELIR

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Omong soal selir, pikiran pastilah langsung istri banyak. Paling tidak lebih dari satu. Tetapi istri lebih dari satu pastilah selir? Inilah yang menarik untuk disimak dan diperhatikan. Itu adalah gejala yang ada di masyarakat, yang kadang mengundang pro dan kontra. Biasa, seperti halnya hidup itu sendiri mengundang pro dan kontra. Lantas bagaimana tentang selir di tanah Jawa ini atau khususnya di seputaran kalangan kerabat raja yang disebut ningrat atau priyayi yang sering dijadikan panutan masyarakat. Continue reading “SELIR, OH… SELIR”