Kurban Buku ala John Wood

A Qorib Hidayatullah
[Jawa Pos 29Nov2009]http://indonimut.blogspot.com/

BERKAT Microsoft, John Wood bergelimang harta dan materi. Namun, dia kemudian memilih banting setir, menjadi seorang filantropi untuk masyarakat negara-negara miskin. Dia sedang membangun 7.000 per?p?us?takaan di pelosok dunia.***

Ada benarnya petuah buku-buku how to (bu??ku serial motivasi) bahwa hidup mapan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Se?per?ti yang dijalani John Wood, mantan bos Mi?crosoft. Profesi, gaji, dan saham menjadi per?taruhan John Wood yang kemudian memi?lih tenggelam dalam arus kemanusiaan. Continue reading “Kurban Buku ala John Wood”

SISI GELAP PUAK MELAYU

Maman S. Mahayana *

Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita tentang sebuah keluarga yang mengalami lumpuh layu. Mereka menerima nasib begitu saja, karena tak ada biaya untuk berobat. Masih tak jauh dari Jakarta, beberapa anak mengalami busung lapar. Continue reading “SISI GELAP PUAK MELAYU”

Masalah Naskah Teater di Jawa Timur

Rakhmat Giryadi *

Jawa Timur, mengalami kelangkaan naskah teater. Sejak periode tahun 1970-an, periode Akhudiat, penerbitan naskah teater baru terjadi satu kali. Pada tahun 2001 lalu Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menerbitkan Tiga Kitab Lakon dari Jawa Timur, yang hanya memuat tiga naskah antara lain, Jaka Tarub (Akhudiat), Sang Tokoh (Anas Yusuf), dan Kuman (Meimura). Namun penerbitan ini juga tidak mampu menjawab kelangkaan naskah di Jawa Timur. Continue reading “Masalah Naskah Teater di Jawa Timur”

PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS

Maman S. Mahayana

Cerpen Indonesia, kini, makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kultur keindonesiaan. Ia tidak hanya datang dari berbagai wilayah yang selama beberapa dekade seolah-olah belum terpetakan, melainkan mengada lantaran di belakangnya ada kegelisahan kultural. Kegelisahan, bahkan kepedihan dan sekaligus juga kemarahan yang datang dari berbagai macam komunitas itu, memang selama ini senantiasa ditenggelamkan oleh kejahatan sentralitas. Hiruk-pikuk yang terjadi di sana seperti dianggap senyap, padahal ia justru mewakili ungkapan hati nurani dan harapan sosio-budayanya. Ada luka budaya di belakangnya, dan di depannya, ada keinginan, hasrat, harapan untuk memberi dan menyumbangkan sesuatu bagi Indonesia. Continue reading “PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS”

Bahasa ยป