FENOMENA NOVEL ISLAMI

Maman S. Mahayana *

Novel Ayat-Ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy, secara sosiologis, tak pelak lagi, telah menancapkan dirinya sebagai novel paling laris, paling banyak dibaca, dan luar biasa fenomenal. Dalam perjalanan sastra Indonesia, baru kali inilah sebuah novel meraup angka penjualan yang sangat mencengangkan. Jika novel itu kemudian difilmkan dan berhasil menyedot jumlah penonton yang juga mencengangkan, tentu saja sukses itu, terutama, tidak terlepas dari kehebohan yang diciptakan karya Habiburrahman itu. Dari sana lalu muncullah wacana tentang sastra Islam; sebuah fenomena yang wajar dari sebuah kegandrungan yang tanpa sadar menciptakan kelatahan. Continue reading “FENOMENA NOVEL ISLAMI”

Eksistensialisme Makna Karya Sastra

Heru Kurniawan *
lampungpost.com

Menurut Ricoeur dalam bukunya Interpretation Theory: Discourse and Surplus Meaning, Tradisi Posivistik-Logis telah menciptakan pembedaan antara makna eksplist dan makna implisit yang diperlakukan sebagai perbedaan antara bahasa kognitif dan emotif yang dalam tradisi strukturalisme disebut juga dengan makna denotasi dan konotasi. Persoalannya adalah di manakah makna karya sastra meletakan paradigma filosofisnya? Continue reading “Eksistensialisme Makna Karya Sastra”

Cinta, Sastra, dan Kita

Matroni El-Moezany
sinarharapan.co.id

Cinta tak lain adalah sebuah reaksi kimia tubuh yang segalanya bisa diterangkan sebagai persoalan senyawa kimia. Belakangan ini para ilmuwan semakin tertarik menerangkan perasaan manusia sebagai gejala kimia biologi.

Bukan lagi gejala jiwa atau psike. Sesungguhnya ini sangat kontroversial. Tren penemuan-penemuan belakangan ini menunjukkan bahwa yang selama ini dianggap sebagai jiwa dalam bentuk sifat, perasaan, perilaku ini dapat dikendalikan bahkan diubah melalui manipulasi hormon dan senyawa kimia otak. Continue reading “Cinta, Sastra, dan Kita”

Redesain Seni-Budaya Jatim

Mohamad Ali Hisyam
surya.co.id

Seni dan budaya memang erat dan senapas dengan pengembangan pariwisata daerah. Terlebih untuk simbol kebudayaan yang selama ini menjadi ikon utama Jawa Timur, semisal seni ludruk, tari topeng dan sapeh sono? Madura, hingga reog Ponorogo.

ADA sejumlah agenda krusial yang harus segera direalisasikan, baik di sektor ekonomi, politik, keamanan, hingga sosial-budaya. Publik Jatim masih ingat dengan jargon strategis yang pernah digencarkan pasangan cagub-cawagub dalam kampanye mereka. Continue reading “Redesain Seni-Budaya Jatim”

Realisme Sastra dalam Konteks Kemerdekaan Berpikir

Mulyo Sunyoto
http://www.hupelita.com/

Novelis Pramoedya Ananta Toer beberapa waktu lalu kembali menyuarakan kredonya mengenai dunia penciptaan fiksi.

Penulis yang diasosiasikan dengan kekuatan politik “kiri” itu tetap kukuh dengan pendapatnya bahwa realisme dalam sastra adalah sebuah keniscayaan.

“Realisme sastra memberikan kemerdekaan kepada publik untuk mengambil kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang ditulis oleh seorang sastrawan,” kata Pram. Continue reading “Realisme Sastra dalam Konteks Kemerdekaan Berpikir”

Bahasa ยป