Meneguhkan Kembali Karya Sastra

Imam Muhtarom *
indopos.co.id

Pernyataan novelis Budi Darma pada Kamis (31/7/2008) dalam rangkaian Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) XII di Bogor, 28 Juli -2 Agustus 2008, layak menjadi renungan dalam perkembangan sastra sekarang ini. Sastra hari ini, menurut Budi Darma, mendapat tantangan yang cukup berat. Tantangan itu bukan karena tidak adanya infrastruktur untuk menopang kelangsungan sastra itu sendiri, melainkan justru ketika infrastruktur tersebut dalam keadaan cukup memadai. Buktinya, sekian penerbit telah muncul dengan segala kelengkapannya agar karya sastra sebanyak mungkin diserap pasar. Continue reading “Meneguhkan Kembali Karya Sastra”

Pencarian Kepahlawanan Lewat Komik

Syifa Amori
jurnalnasional.com

Genre komik dalam seni rupa patut diperhitungkan karena kemampuannya memuat tema yang substansial dengan daya tarik tersendiri.

Setelah selama 12 tahun dari SD hingga SMP, bahkan SMA, murid sekolah di Indonesia dihadapkan pada sosok-sosok pahlawan yang berkorban demi tanah air dalam buku pelajaran sejarah mereka. Kini, mahasiswa Harvard, Mark Zuckerberg yang menemukan dan membuat facebook mendadak juga dirasa bagai pahlawan. Berkat penemuannya, interaksi sosial dan komunikasi lintas benua dapat dilakukan dengan mudah. Continue reading “Pencarian Kepahlawanan Lewat Komik”

Mengaranglah Sampai ke Amerika

Binhad Nurrohmat
Pikiran Rakyat, 12 Jan 2008

Pada sejumlah pengarang kita mengarang karya ketika berada di negeri lain serta terilhami kenyataan manusia dan kebudayaannya, misalnya Rendra (Blues untuk Bonnie, 1971), Umar Kayam (Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, 1972), dan Budi Darma (Olenka, 1983).

Para pengarang dan karyanya yang berjelajah lintas-budaya ini merupakan sebagian jejak prestasi “kosmopolitan” kesusastraan kita. Para pengarang ini mengarang karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri sendiri maupun negeri lain, yaitu Amerika, dengan mutu literer dan kadar kepekaan persoalan yang mengagumkan. Continue reading “Mengaranglah Sampai ke Amerika”

Seni, Imajinasi, dan Kampanye Pencitraan

M. Shoim Anwar
jawapos.com

HARI-HARI ini di sekitar kita benar-benar dipenuhi oleh suasana dan media kampanye dengan simbol-simbol politik. Poster, baliho, spanduk, foto, selebaran, dan sejenisnya tumbuh seperti rumput liar di pinggir-pinggir jalan. Radio yang kita dengar, televisi yang kita tonton, serta koran yang kita baca telah dikepung oleh nuansa politik. Persuasi yang dimunculkan simbol-simbol itu terus berulang, mengalami repetisi dari waktu ke waktu untuk merogoh simpati kita. Ibarat menu, semua itu disajikan secara bersama-sama dan kita dipaksa untuk melahapnya. Atas nama pesta, awalnya kita memang sangat bernafsu melahapnya, tapi lama-lama kita pun muntah dibuatnya. Continue reading “Seni, Imajinasi, dan Kampanye Pencitraan”

Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Kata mengantarkan manusia untuk menciptakan, menemukan, menghancurkan, atau membunuh kota. Drijarkara (1956) mengingatkan, kota itu kata dan ruang yang mengandung kengerian dan risiko.

Kota sebagai kata memang memberi utopia dan janji indah tapi melenakan dan melengahkan. Kota sebagai ruang hidup adalah ruang kompetisi, konfrontasi, dan konflik. Kota dalam kisah dan deskripsi itu lahir dengan narasi kata dan kekuatan imajinasi. Kota itu hidup dan mati karena imajinasi dalam suatu konstruksi teks. Drijarkara menulis arti kota dengan referensi fakta kota-kota di Indonesia. Continue reading “Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota”

Bahasa ยป