Ketika Sandal Dimerdekakan

Membaca Sajak-Sajak Okky Sanjaya

Budi P. Hatees
http://www.lampungpost.com/

Sandal bisa menjadi apa saja yang pembaca inginkan. Okky Sanjaya memanfaatkan kekuasaan akan kemerdekaan personal untuk membebaskan sandal dari kungkungan makna.

SANDAL di tangan kapitalis bermetamorfosis; metamorfosis yang mirip idiom sandal dalam sejumlah sajak dalam manuskrip Belajar Memasak Sajak. Manuskrip ini berisi sajak-sajak Okky Sanjaya yang muncul di sejumlah media cetak di Lampung maupun luar provinsi; lahir dari proses panjang kepenyairannya sejak masih di SMA. Continue reading “Ketika Sandal Dimerdekakan”

Kalau Evi Bahagia Dipoligami, “Lha mbok Biarin Aja..”

Abdul Wachid B.S.
http://www.kr.co.id

MEMBACA buku cerpen Mahar karya Evi Idawati, ada hal yang menjadi perhatian saya. Dari gaya penceritaan, ekspresi bahasa secara umum, cerpen Evi tidak menunjukkan kebaruan. Tidak serevolusioner cerpen Joni Ariadinata yang mendobrak struktur kalimat menjadi frase-frase demi merebut ekspresi dan aksentuasi pikiran dan peristiwa agar selaras dengan emosi peristiwa yang dibangun. Memang, kelebihan cerpen Joni membangun miniatur ‘dunia’ dengan cara memilih peristiwa paling penting saja. Continue reading “Kalau Evi Bahagia Dipoligami, “Lha mbok Biarin Aja..””

Pergolakan PRRI dalam Cerpen

Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/

?Saya hadir dalam pertemuan Dewan Banteng di Bukittinggi (1956). Malam itu telah mengubah wajah Sumatera Tengah, dan menyeretnya ke suatu medan laga mengerikan,? begitu pengakuan Soewardi Idris (1930-2004), satu-satunya jurnalis yang menyaksikan pertemuan rahasia tokoh-tokoh PRRI.

Setelah itu Soewardi bergabung dengan PRRI, tiga tahun masuk-keluar hutan hingga akhirnya ?turun gunung? setelah mendapat amnesti dari pemerintah. Soewardi bukan ?pembangkang? biasa. Ia wartawan, juga sastrawan?bukan tentara atau bekas tentara seperti pemberontak lainnya. Continue reading “Pergolakan PRRI dalam Cerpen”

Benang Merah Perkembangan Sastra Ide

Lies Susilowati
suarakarya-online.com

Ketika massa nekrofilis (pencinta kematian) sedang memenuhi jalan raya di negeri ini, diam-diam di toko buku dan perpustakaan telah tersedia buku-buku tentang Marxisme dalam bahasa Indonesia.

Di samping itu, buku-buku Tan Malaka diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia masa kini.

Yang lebih menyenangkan, disamping Marxisme, ada juga terjemahan Indonesia buku-buku mengenai eksistensialisme. Nietzsche memasuki dunia pustaka kita dalam bentuk buku berbahasa Indonesia. Continue reading “Benang Merah Perkembangan Sastra Ide”

Latar Indonesia dalam Karya Sastra Tionghoa

I Nyoman Suaka

Beranda

Karya-karya kesusastraan peranakan Tionghoa di era tahun 1920-an, kini bangkit kembali dan banyak beredar di pasaran. Bahkan tidak canggung-canggung, buku sastra itu terbit berseri (jilid satu sampai delapan) yang bertajuk ”Sastra Melalui Peranakan Tionghoa”. Buku itu membicarkan tentang karya sastra kaum penulis Tionghoa tempo dulu. Anehnya, ketika karya sastra itu terbit pertama kali, pernah dijuluki sebagai bacaan picisan, murahan dan bermutu rendah. Akibat julukan itu, maka hasil kesusastraan peranakan Tionggoa tergolong bacaan liar. Mengapa demikian? Continue reading “Latar Indonesia dalam Karya Sastra Tionghoa”

Bahasa ยป