Politik yang Menyerah

Radhar Panca Dahana *
gatra.com

Ekonom peraih Nobel asal Amerika Serikat, Joseph Stiglitz, sekali memberi masukan dengan mengambil contoh India, Cina, dan Argentina sebagai negara-negara dengan karakteristik yang sama dengan Indonesia, yang ternyata jauh lebih berhasil dalam mengatasi krisis dan kini mencapai stabilitas serta mencatat pertumbuhan ekonomi yang fenomenal. Dengan cara, antara lain, Argentina misalnya, mendesak penghapusan utang, mengenyahkan bantuan IMF dan advis-advisnya, menahan liberalisasi bank dan perusahaan negara, serta mengendalikan pasar bebas, terutama dalam komoditas yang menjadi hajat hidup rakyat. Continue reading “Politik yang Menyerah”

Arus Negasi KesusastraanIndonesia

Rohmat Em Humair
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejarah sastra Indonesia telah dimulai sejak tahun 1870 bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan raja-raja di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan yang sekaligus diikuti oleh lenyapnya sastra keraton.

Sebagaimana namanya sastra keraton adalah sastra yang hidup dan dilahirkan di lingkungan istana keraton. Oleh karena itu hidup dan matinya sastra keraton amat bergantung sepenuhnya kepada kebijakan raja yang berkuasa saat itu. Continue reading “Arus Negasi KesusastraanIndonesia”

BENGKALIS NEGERI ZAPIN*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Datanglah ke Bengkalis dan bertanyalah tentang zapin. Maka boleh jadi, sesiapa pun warga masyarakat di sana, akan menjawabnya enteng saja, seperti seseorang yang mewartakan identitasnya. Tetapi boleh jadi juga jawabannya panjang lebar, lengkap, sambil sekalian menunjukkan sejumlah gerakan yang khas, yang gemulai, yang rancak atau yang patah-patah, meski sangat berbeda dengan breakdance. Antusiasme! Itulah kesimpulan yang akan kita peroleh ketika pertanyaan tentang zapin jatuh di Bengkalis. Zapin bagi masyarakat Bengkalis, bahkan juga bagi masyarakat pesisir Semenanjung Melayu adalah denyut nadi dinamika kehidupan mereka. Continue reading “BENGKALIS NEGERI ZAPIN*”

ANTARA CINTA, KEKUASAAN, DAN MARWAH

Maman S. Mahayana *

Kekuasaan cenderung korup, begitulah pemeo orang bijak yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan, sekaligus juga keburukan. Di tangan orang yang telengas, kekuasaan dapat menghancurkan kemanusiaan. Sebaliknya, di tangan orang bijak, sangat mungkin ia memancarkan kemaslahatan dan kebaikan bagi masyarakat. Sesungguhnya, kekuasaan seperti sebuah garis tipis yang berada di perbatasan kebaikan dan keburukan. Sekali waktu, ia lantang meneriakkan keadilan dan kebenaran. Dalam waktu yang lain, boleh jadi ia tergelincir, melukai dan menzalimi manusia lain. Jadi, sangat mungkin ia bolak-balik berada dalam kebaikan dan keburukan. Continue reading “ANTARA CINTA, KEKUASAAN, DAN MARWAH”

TANAH-INGATAN, KEKAYAAN BATHIN BAGI ANAK-ANAKNYA

Persembahan kepada Muhammad Iqbal,
Rabindranath Tagore & R.Ng. Ronggowarsito

Nurel Javissyarqi*
http://www.forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Bagi siapa pun bisa merayakan keheningan dalam percakapan.
ADA yang tergerak saat ingatan diluncurkan. Ingatan itu tangan panjang yang menelisik ceruk dalam. Jika dikelola akan mendapati kesemangatan jiwa. Saat dipersatukan lewat penjabaran, atas lelangkah pengembaraan bathin dalam masa-masa silam bersimpan rindu. Continue reading “TANAH-INGATAN, KEKAYAAN BATHIN BAGI ANAK-ANAKNYA”

Bahasa ยป