MENGUSUNG KECENDERUNGAN DAN MAINSTREAM ESTETIK

Tentang Tiga Antologi Cerpen Creative Writing Institute
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Siapakah gerangan penggerak di balik layar Creative Writing Institute (CWI), sebuah lembaga baru yang konon bergiat di bidang pelatihan penulisan kreatif. Barangkali CWI ini semacam sanggar yang membina kaum muda agar menekuni bidang penulisan kreatif. Pertanyaannya: apakah mungkin penulisan kreatif dapat dilatihkan macam kegiatan olahraga? Bukankah ?sebagaimana anggapan sebagian besar masyarakat? menjadi penulis ?sastrawan?memerlukan talenta dan bakat yang luar biasa? Jawabannya Continue reading “MENGUSUNG KECENDERUNGAN DAN MAINSTREAM ESTETIK”

Coba Menghindari ‘Dosa Generasi’ *

Karena tidak menghargai karya sastra

Marwanto
http://www.kr.co.id/

SALAH SATU persoalan ‘klasik’ yang dihadapi dunia kesusasteraan kita adalah tidak dihargainya karya sastra. Dalam dialog antara sastrawan (yang dimotori Taufiq Ismail dan kawan-kawan) dengan pelajar maupun mahasiswa, memperlihatkan adanya keprihatinan mendalam pada eksistensi sastra dalam masyarakat. Di samping itu, dari hasil dialog ke berbagai sekolah dan universitas itu, menunjukkan pelajaran mengarang menjadi pelajaran paling terlantar di institusi pendidikan Indonesia. Continue reading “Coba Menghindari ‘Dosa Generasi’ *”

Cerpen Koran Digugat?

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

Keberhasilan Kompas mentradisikan pembukuan cerita pendek (cerpen) selama satu dekade sejak 1992 telah mempengaruhi sejumlah koran lain untuk berpartisipasi. Bali Post pada Agustus 2002 menerbitkan kumpulan cerpen “Obituari bagi yang tak Mati”, Republika pada Agustus 2002 menerbitkan “Pembisik”. Ketiga media ini mempunyai cara berbeda dalam membukukan cerpen. Continue reading “Cerpen Koran Digugat?”

Siapa Takut, Nirwan Dewanto?

Mengembangkan Sastra dengan Merebutnya dari Para Ahli Sastra
Richard Oh
www2.kompas.com

Ada beda yang sangat kentara antara penulis sastra dan ahli sastra. Seorang penulis sastra berusaha, dengan serampangan tanpa mengikuti suatu metode, memetik apa saja dari sumber sastra untuk tujuan seninya. Ia mengolahnya untuk mengisi kebutuhan seninya. Yang ia pelajari bukan sintaksis atau teori, tapi gerak “menuju pengungkapan baru, menghancurkan ekspektasi genre yang ada”. Continue reading “Siapa Takut, Nirwan Dewanto?”

Bahasa ยป