Sastra dan E(ste)tika Massa

Yasraf Amir Piliang *
pr.qiandra.net.id

Perbedaan ekspresi kebudayaan sering ditampilkan dalam bingkai pertentangan atau oposisi biner (binary opposition), misalnya, antara budaya tinggi (high culture) dan budaya massa (mass culture). Dalam dunia sastra, khususnya, ada pertentangan antara “sastra tinggi” dan “sastra rendah”. Metafora spasial macam ini dalam sastra digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara bentuk-bentuk sastra yang dianggap mempunyai nilai-nilai “luhur” (indah, suci, atas, serius, mulia, tinggi) dan yang mempunyai nilai-nilai “bawah” (rendah, banal, buruk, profan, asal jadi, instan). Continue reading “Sastra dan E(ste)tika Massa”

KERINDUAN PENGANTAR ANTOLOGI PUISI MODEL RAGIL;

Genderang Kurukasetra, Editor dan Kreator

Abdul Azis Sukarno *
kr.co.id

TAHUN 1986, atas nama Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Muhammadiyah Yogyakarta (kini Universitas Ahmad Dahlan) terbit sebuah buku antologi puisi berjudul “Genderang Kurukasetra” yang dipinjam dari salah satu judul puisi di dalamnya karya Suminto A Sayuti. Continue reading “KERINDUAN PENGANTAR ANTOLOGI PUISI MODEL RAGIL;”

Saatnya Belajar Menghargai Pram

Anita Retno Lestari*
http://www2.kompas.com/

Seandainya tidak dibuang ke Pulau Buru dan diisolasi secara politis oleh rezim Orde Baru, apakah novel-novel tetralogi yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah bisa ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer?

Pertanyaan itu bukan pembelaan terhadap rezim Orde Baru yang sekian tahun membuang sastrawan besar Indonesia itu sebagai tahanan politik. Meski faktanya justru pembuangan merupakan “berkah” bagi Pram untuk melahirkan karya tetraloginya yang semakin mengibarkan namanya dalam kesusastraan dunia dan sempat memosisikannya sebagai calon peraih hadiah Nobel. Continue reading “Saatnya Belajar Menghargai Pram”

Dari Regenerasi, Multimedia, hingga “Vulgarnya” Penulis Perempuan

Catatan Sastra Indonesia Tahun 2002
Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Pada suatu malam di sebuah kafe Taman Ismail Marzuki, Sutardi Calzoum Bachri tampak asyik membaca sebuah buku antologi milik seorang penyair berusia muda.

Di sekeliling sastrawan yang pernah berjuluk “Anker Bir” itu, tampak beberapa kawan yang tekun mengikuti wejangannya. Continue reading “Dari Regenerasi, Multimedia, hingga “Vulgarnya” Penulis Perempuan”

Bahasa ยป