Menyoal Sastra Pesantren*

Fahrudin Nasrulloh **

Dalam sastra Jawa kepesantrenan, bahasa dan sastra Jawa dijadikan wadah untuk memperkenalkan ajaran Islam. Sedangkan dalam sastra Islam-Kejawen anasir sufisme dan ajaran pekertinya diserap oleh pujangga Jawa untuk mengislamkan warisan sastra Jawa zaman Hindu. Memang, sastra Jawa pesantren tidak sesubur sastra Islam-Kejawen. Lantaran yang berkembang di Jawa adalah paham sufisme ortodoks Al-Ghazali, sehingga daya telisiknya terbatas hanya pada ilmu-ilmu yang telah ada. Ini jelas berbeda dengan sastra sufistik Melayu di Aceh silam yang menganut paham wujudiyah falsafi. Continue reading “Menyoal Sastra Pesantren*”

Mbah Jomblo sang Besutan dari Jombok**

Fahrudin Nasrulloh*
___Radar Mojokerto

Uwur-uwur kodok segoro
bandeng nener disaut ulo
Sukur-sukur peno jowo
tumut ngenger sak umur kulo
(Petilan kidungan Besut dari Mbah Jomblo)

Ia bernama Mbah Jomblo. Tampaklah panorama Dusun Jombok yang permai yang dikitari persawahan yang menghijau subur. Dan di daerah itulah ia pertama kali menghirup hiruk-pikuk dunia, yang kemudian ia lebih dikenal oleh warga sekitarnya dengan sebutan Mbah Jomblo. Continue reading “Mbah Jomblo sang Besutan dari Jombok**”

Sang Pelacak

Fahrudin Nasrulloh *
jawapos.com

Sebuah tlatah mulanya adalah sebentang nubuat, situs yang terus bergerak, dan perang yang bergolak panjang. Tragedi dan cerita manusia di dalamnya bagai layang-layang putus di angkasa. Begitulah kiranya apa yang tersirat di batin De Jonge (1828-1879), si tukang arsip kolonial yang disegani itu. Ia merupakan generasi setelah Valentijn (1666-1727), Peiter Van Dam, dan J. Hageman (1817-1872). Continue reading “Sang Pelacak”

Abu Zardak*

Fahrudin Nasrulloh
Surabaya Post, 12 JUli 2009

Di dusun Tis di wilayah Qulaiwah, dalam kenangan Abu Zardak, adalah tilas gaib Banul Jan. Dengan hamparan gurun yang kuasa menghisap iman dan ingatan bagi orang yang nekat merambahnya. Dengan pemandangan bebukitan berbatu yang, konon, kilau putihnya, kerap memancarkan sinar berasap pilu-kalut dari airmata Adam dan Hawa. Betapa nelangsa lanskap ini bila diriwayatkan penyair pendusta atau si dukun peramal yang culas. Continue reading “Abu Zardak*”

Bahasa ยป