Tag Archives: Fina Sato

“Post-etnisitas” Kazuo Ishiguro

Fina Sato *
Pikiran Rakyat, 27 Juni 2009

SELESAI membaca tulisan Anwar Holid tentang Martin Amis “Badabudu dan Martin Amis”, Khazanah, Pikiran Rakyat, (3/5), saya teringat pada karya-karya Kazuo Ishiguro. Seingat saya, Martin Amis dan Kazuo Ishiguro merupakan regenerasi penulis dalam kancah sastra Inggris di awal era 1980-an, yang telah menjadi bagian penting dalam percaturan sastra dunia hingga saat ini. Namun, saya tidak hendak membandingkan keduanya. Meski keduanya memiliki strategi dan karakteristik karya yang berbeda, namun kekuatan karya mereka sama-sama mempunyai keunikan yang menggoda.

Puisi-Puisi Fina Sato

Mungkin Aku Lupa Menghitung Kisah
: buat Rosadi

mungkin aku lupa menghitung kisah
menjadi sejarah pada awal perjalananmu
aku mengiris sungai dan batubatu hitam
yang semaikan suka duka pada akhir
malam sesak kelam

Sajak-Sajak Fina Sato

http://www.pikiran-rakyat.com/
Episode Fetus

kata mereka, angkaangka bising dari mulutmu.
kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna.
tanganmu menjelma tunastunas bintikbintik alis
dan wajah emas. ruang hitam adalah rumah yang nyaman
penuh kerinduan dan kenangan.
namun aku belum sempat memberimu nama di kulitkulit ari
di gumpalgumpal darah
di tali pusar akar menikam tanah.

Sajak-Sajak Fina Sato

http://www.lampungpost.com/
Mungkin aku lupa menghitung kisah
:buat Rosadi

Mungkin aku lupa menghitung kisah
menjadi sejarah pada awal perjalananmu
aku mengiris sungai dan batu-batu hitam
yang semaikan suka duka pada akhir
malam sesak kelam
“hujan pun mengantarkan kepulanganmu
dalam kamar gelisahku,”

Monolog Hujan

Fina Sato
http://pr.qiandra.net.id/

Percakapan Awal: Surat Tanpa Alamat

Pintu-pintu tahun bersibak seperti pintu-pintu bahasa, menuju entah. Semalam kau bertutur kepadaku: esok, kita musti menemukan isyarat-isyarat, mengurai lanskap, merancang rencana di halaman ganda. Esok, kita mesti menemukan, sekali lagi (1).