Rumah Terakhir Sastrawan Gerson Poyk

Yohanes Sehandi *
Majalah Warta Flobamora (Surabaya), edisi: 50, Maret 2017

Ada sejumlah sastrawan Indonesia yang menggambarkan atau meramalkan tempat penguburan atau rumah terakhirnya jauh sebelum sang sastrawan tersebut meninggal dunia. Apakah kemudian pihak keluarga menguburkan sang sastrawan sesuai dengan yang digambarkan atau diramalkannya, itu urusan lain. Continue reading “Rumah Terakhir Sastrawan Gerson Poyk”

Meredam Dendam Ala Gerson Poyk (1931-2017)

Yohanes Sehandi
Majalah Kabar NTT (terbitan Kupang), edisi: 33, Juli 2017

Naluri purba manusia umumnya adalah membalas dendam, kejahatan dibalas dengan kejahatan. Gigi ganti gigi, ungkapan yang sering kita dengar. Kalau itu terjadi, maka kejahatan di muka bumi ini tidak akan pernah berakhir. Kejahatan akan terus beranak-pinak dan bercucu-cecet. Pertikaian, kerusuhan, dan peperangan di mana pun dan kapan pun, sejak zaman baheula sampai dengan zaman digital sekarang ini adalah sejarah panjang dendam kesumat umat manusia yang dibalas dengan menghalalkan segala cara. Continue reading “Meredam Dendam Ala Gerson Poyk (1931-2017)”

Taman Budaya Gerson Poyk

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang (Kupang), 8 Mar 2017

Salah satu bentuk penghargaan dan rasa hormat Pemprov NTT terhadap sastrawan dan jurnalis senior Indonesia kelahiran NTT, Gerson Poyk, adalah dengan mengubah nama Taman Budaya NTT yang sudah ada, menjadi Taman Budaya Gerson Poyk. Pemberian nama itu, kata Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, agar nama almarhum dikenang generasi ke generasi NTT bahwa Gerson Poyk adalah tokoh sastra Indonesia (Pos Kupang, 26/2/2017). Continue reading “Taman Budaya Gerson Poyk”

Om Kelom

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di usianya yang ke-85 tahun, pamanku masih sehat tetapi kelakuannya agak aneh. Walaupun ia seorang Doktor (yang sudah pensiun), kenangan aneh masa kecilnya datang lagi di benaknya. Ia melempar sepatu dan sandalnya ke gudang diganti dengan kelom. Continue reading “Om Kelom”