Om Kelom

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di usianya yang ke-85 tahun, pamanku masih sehat tetapi kelakuannya agak aneh. Walaupun ia seorang Doktor (yang sudah pensiun), kenangan aneh masa kecilnya datang lagi di benaknya. Ia melempar sepatu dan sandalnya ke gudang diganti dengan kelom. Continue reading “Om Kelom”

Komentator Senja

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di saat kakek pensiun, aku beruntung sudah diterima menjadi mahasiswa tanpa ujian masuk. Aku langsung diterima karena nilai ujian akhir SMA-ku bagus. Semuanya sembllan, kecual i matematik yang berhenti pada angka delapan. Kakek memberiku hadiah sebuah laptop yang setiap hari aku bawa ke kampus. Continue reading “Komentator Senja”

Memahami Peringatan Gerson Poyk

Evi Melyati
suarakarya-online.com

COBA tanyakan kepada pelajar di NTT sekarang ini siapa itu Gerson Poyk. Boleh jadi mereka belum pernah mendengar namanya. Kalau pun sudah kenal nama ini mungkin hanya mendengarnya dari orang lain, atau guru di bangku sekolah. Dan bukan mengenalnya dari buah karya sastra gemilangnya. Padahal karya cerpen dan roman sastrawan kelahiran Rote 16 Juni 1931 ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Anehnya banyak yang belum mengenal nama ini. Continue reading “Memahami Peringatan Gerson Poyk”

Membaca Peringatan Gerson Poyk

Tony Kleden *
jurnalis-ntt.blogspot.com

COBA tanyakan kepada pelajar di NTT sekarang ini siapa itu Gerson Poyk. Banyak yang sangat boleh jadi belum pernah mendengar namanya. Kalau pun sudah kenal nama ini mungkin hanya mendengarnya dari orang lain, atau guru di bangku sekolah. Dan bukan mengenalnya dari buah karya sastra gemilangnya. Padahal karya cerpen dan roman sastrawan kelahiran Rote 16 Juni 1931 ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Anehnya banyak yang belum mengenal nama ini. Kalau Gerson Poyk mengetahui ini, dia mungkin cuma mengurut dada. Continue reading “Membaca Peringatan Gerson Poyk”

Antara Ayah dan Kakek

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Pertengkaran antara ayahku dan kakek berakhir pada keputusan kakek untuk pindah ke rumah kebun. Kakek tak membawa apa-apa selain beberapa potong pakaian, kasur tipis, bantal dan selimut. Ada juga beberapa piring kaleng, mangkuk besar untuk ditaruh sayuran atau sup. Ada sebuah ceret untuk masak air dan sebuah penggorengan. Continue reading “Antara Ayah dan Kakek”