Kuda Lumping

Gerson Poyk
Suara Karya, 04 Agu 2007

Rumah makan Papacili didatangi seorang anak berusia empat belas tahun yang hanya memakai celana tanpa baju.
“Mau makan, Nak?” tanya Papacili.
“Mau, Pak, tapi tidak punya uang.”
“Siapa namamu?”
“Lumping, Pak.”
“Tidak punya uang kok masuk warung,” kata Papacili.
“Sudah berapa hari tak makan?” tanya Papacili. Continue reading “Kuda Lumping”

Berlayar ke Miangas

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di atas pesawat yang terbang dari Bandara Sukarno-Hatta menuju Manado, tidak ada yang unik. Rasanya biasa-biasa saja. Sebelum transit sebentar di Makassar, penumpang diberi aqua gelas plastik dan sepotong lemper lebih besar sedikit dari ibu jari. Akan tetapi yang menarik adalah tetangga dudukku. Di sebelah kananku jendela dan di sebelah kiriku seorang wanita muda yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter gigi. Ah, gigi lagi, gigi lagi, aku benci gigiku, gigiku pernah diperkosa habis-habisan oleh perempuan dokter seperti yang duduk di sebelah kiriku. Continue reading “Berlayar ke Miangas”

Sang Aktor

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Tidak disangka, ada juga sebuah teater nasional di ibu kota Afghanistan. Sangat prihatin melihat puing gedung teater nasional itu lewat televisi. Setelah batara perang lenyap, para aktor dan aktris, para penyanyi dan pemusik mulai manggung. Terharu melihat mereka manggung di puing gedung teater itu. Di masa batara perang berkuasa kesenian tidak mati, kecuali menyelam, menyembunyikan diri dan ketika badai berlalu, kesenian timbul dari dasar persembunyiannya. Continue reading “Sang Aktor”

Sebuah Esei Kenangan Seorang Sastrawan

Dari Era Soekarno ke Soeharto (1)
Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di tahun 1963 aku terdampar di sebuah rumah petak berjendela lebar kawat kandang ayam di Jakarta. Rumah ini terkenal sebagai sebuah sanggar beberapa pelukis, Sanggar Bambu namanya. Ketuanya Sunarto Pr. Di sanggar itu tinggal pelukis Mulyadi, Danarto dan lain-lain. Di ujung bangunan berpetak-petak itu ada petak yang ditinggali seorang ibu yang baik hati yang membuka sebuah warung yang laris. Continue reading “Sebuah Esei Kenangan Seorang Sastrawan”

Sebuah Esai Kenangan Seorang Sastrawan

Dari Era Soekarno Ke Soeharto (2)
Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Kantor majalah Kuncung memang menjadi tempat seniman berusil ria, bernyentrik-nyentrik. Menurut cerita seniman Hartoyo Andangjaya, yang paling nyentrik dan usil di eranya adalah seniman Tirnoyuwono. Suatu hari di masa Mulyanto menempati kantor Kuncung, Tirnoyuwono datang dari Bandung. Seperti biasa ia nginap tetapi pada suatu siang ia lapar. Karena tidak punya uang ia menyeberang ke dapur tetangga, lalu minta makan kepada babu. Continue reading “Sebuah Esai Kenangan Seorang Sastrawan”

Bahasa ยป