Sastra Anak Bukan Anak Sastra

Hasta Indriyana
http://www.suarakarya-online.com/

Saya cukup terganggu oleh sebuah pertanyaan yang dilontarkan seorang guru Sekolah Dasar ketika mengikuti workshop penulisan dalam sebuah acara haul sastra di Yogya (acara tersebut dibuka untuk umum), yang isi pertanyaannya kurang lebih menanyakan kiat-kiat menulis bagi anak. Poin pertanyaan yang mengganggu tersebut terutama mengenai apa yang harus ditulis oleh anak-anak seumuran SD, bagaimana cara pengajarannya, dan bagaimana implikasinya nanti. Continue reading “Sastra Anak Bukan Anak Sastra”

Menengok Teater Pembebasan di Indonesia

Hasta Indriyana
http://www.suarakarya-online.com/

Teater menunjukkan satu konsep bahwa ia sesungguhnya adalah segala macam peristiwa yang terjadi di atas pentas yang mengandung cerita, dipertontonkan dan dilakonkan oleh pemain (aktor). Teater merupakan suatu kesatuan yang diciptakan oleh pemain, pengarang cerita, dan penonton (Asrul Sani). Definisi di atas mengandung pengertian adanya proses kolektif dalam sebuah pengalaman kelembagaan (organisasi), kaidah berkesenian (artistik), dan orientasi proses (idiologi), atau Organisasi-Artistik-Orientasi (OAO). Pengertian teater di atas penting dalam hubungannya dengan paparan Teater Pembebasan (TP) di Indonesia di bawah ini. Continue reading “Menengok Teater Pembebasan di Indonesia”

Melihat Puisi dari Industri Buku Yogyakarta

Hasta Indriyana*
Kompas Yogya, 1 Okt 2009

Seorang kawan penulis, yang kebetulan berkecimpung di dunia penerbitan, melontarkan keresahan seusai menyaksikan pameran buku di Jogja Expo Center, beberapa waktu berselang. Katanya, di antara ribuan buku yang ada, ia tidak mendapatkan satu buku puisi pun di semua stan yang diikuti puluhan penerbit. Ia menyayangkan karena sangat menunggu buku yang isinya puisi karya sejumlah penyair. Continue reading “Melihat Puisi dari Industri Buku Yogyakarta”

Suweng

Hasta Indriyana
http://suaramerdeka.com/

Perempuan itu tinggal di bukit ujung dusun. Di bukit itu tak ada rumah, kecuali gubuknya. Untuk mencapai ke sana, harus melewati petak-petak tegalan sejauh dua kali panjang lapangan sepak bola dari rumah terakhir pojok desa. Ia hidup sendirian. Kisah mengenai seorang anak yang dilahirkannya, selalu menyertai jika orang-orang membicarakannya. Anak itu, yang sekarang seusia SMP, gadis ayu berkulit kuning bermata jernih, diadopsi seorang warga yang kemudian diajaknya hidup di Jakarta. Continue reading “Suweng”