Bila Puisi Menggugat Cinta

Ach. Muchlish Ar
http://www.kr.co.id/

PUISI adalah suara hati nurani melalui mediasi kata yang sarat dengan makna. Bahkan setiap kata dalam puisi diisi roh oleh penyairnya, agar pembaca dapat masuk ke ruang rasa yang ?suci? sebagai hasil kontemplasi penyair merespons segala realitas. Hal ini oleh kalangan umum disebut ?spirit power? yang menggugah pembaca dan pendengar untuk larut dan tenggelam di dunia teks. Sehingga pembaca sastra (puisi) cenderung terpesona oleh tampilan kata dan makna yang khas dan mendalam yang dideskripsikan oleh penyair.

Membaca antologi puisi tunggal Hasta Indriyana yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta seakan-akan larut di dunia kata. Karena penyairnya telah berupaya untuk bermain-main dengan kata walaupun makna, rasa, dan kekuatan estetik dari puisi tersebut memantulkan sinar yang sedikit buram atau seperti pendar teplok yang kehabisan minyak. Ini sebuah antologi pertama penyair muda kita yang terburu-buru menerbitkan karyanya (meminjam bahasanya Zainal Arifin Thaha, 2004). Karena dilatarbelakangi oleh ?sofistikasi-deduktif? (kegenitan untuk bercanggih-canggih). Hal ini juga diiyakan oleh penyair perempuan yang sangat perhatian pada proses, yaitu Evi Idawati. Dalam antologi ini, Hasta tidak menaruh spisifikasi tema yang memungkinkan pandangannya terhadap objek tertentu secara mendalam, sehingga lahirnya antologi tidak wagu dan cenderung stereotipe.

Raudal Tanjung Banua dalam pengantar antologi ini menyebutkan, Hasta masih banyak terpengaruh oleh silogisme gurunya, Iman Budhi Santosa, yang mengambil tema Jawa (kampung-halaman), dan cenderung tradisional-romantis. Kenyataan ini semakin menafikan hadirnya Hasta Indriyana di pentas kesusastraan Indonesia, jika Hasta tidak menampilkan pandangan lain dan aliran lain dalam sajak-sajaknya. Karena upaya yang dibangunnya telah ditulis oleh pendahulunya seperti Iman Budi Santosa, Linus Suryadi AG, Suminto A. Suyuti yang jauh lebih canggih dalam mencitrakan Taman Sari, Campurasari, Tembang Tlutur dan realitas panembahan kebudayaan Jawa. Maka kehadiran Hasta menjadi keniscayaan di pentas kesusastraan kita.

Seorang penyair, sastrawan, budayawan, seniman harus rela menunggu ?proses? sebagai kawan sejawat yang tidak pernah pergi mulai dari manusia pertama, ?Adam? hingga nanti di akhir zaman. Kata itu menjadi tugu bagi perjalanan kehidupan seorang sastrawan. Menjaga tugu itu harus sabar bertahun-tahun dengan bersanding kata, memindahkan kata dari lorong satu ke lorong lain, yang tak sesuai warna satu dengan warna lain sehingga kata itu terlihat dengan rapi dan menarik. Disanalah letak nilai estetika sebuah karya sastra yang akan menggiurkan pembaca.

Ke-wadag-an antologi ini kita lihat dalam puisi yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta yang mewakili keseluruhan antologi ini:

Kau paham, puisi pun menyediakan ruang
Bagi bait-bait cinta. Yang teduh yang jujur
Yang selalu mendesirkan harum bunga-bunga

Bait pertama dalam sajak di atas, aku (lirik) telah menggurui pembaca. Toh pada hakikatnya pembaca lebih cerdas dari penyairnya sendiri. Walaupun tidak diungkapkan dalam kata-kata kau paham puisi pun menyediakan bait-bait cinta, pembaca telah tahu bahwa puisi adalah ruang estetik sebagai saudara kandung dari cinta itu sendiri. Cinta dan estetika tidak bisa dipisahkan antara satu dan yang lainnya, sebab apabila estetika tanpa cinta maka estetika itu akan gagal menjadi nilai yang indah. Begitu pula sebaliknya, cinta tanpa estetika akan menjadi kering dan kerontang. Puisi yang terlalu menggurui kepada pembaca pada hakikatnya menganggap pembaca seperti patung yang tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali diam. Anggapan semacam ini pada hakikatnya anggapan yang tidak kreatif.

Pada bait ketiga puisi ini telah menegasikan bait pertamanya. Jika pada bait awal aku (lirik) mengekspresikan secara jelas dan menyatakan dengan tegas bahwa puisi menyediakan ruang cinta yang seakan-akan penyairnya telah lama hidup di ruang itu, namun pada bait ketiga ini menyatakan Aku pun ingin menulis cinta di lembar yang selalu terbuka. Dengan pernyataan ini, ternyata aku (lirik) masih bercita-cita untuk bercinta. Di sinilah letak absurditas dalam antologi ini. Sehingga Hasta perlu mempelajari tiga persoalan yang diajukan oleh Raudal Tanjung Banua dalam pengantarnya itu.

Pertama, bagaimana menghadirkan tema spisifik di tengah berbagai tema yang ada, demi penajaman ruang lingkup estetik dalam ruang lingkup keberpihakan? Kedua, bagaimanakah bekal kampung-halaman dapat dipertanggungjawabkan dalam penajaman kerja estetik, terutama pada soal keberjarakan? Ketiga sejauh manakah totalitas aku (lirik) memberi sumbangan bagi penajaman misi estetik yang hubungannya dengan keterlibatan. Kemudian saya akan menambahkan dua catatan lagi.

(1) sejauh mana kematangan idealitasnya sebelum menulis sajak sehingga cenderung berbobot dan bermutu? Artinya dalam menulis sebuah puisi, berangkat dari pengalaman diri sendiri yang diakui oleh mayoritas, Misalnya seperti sajak Honey Moon (Bulan Madu) karya Abdul Wachid Bs. dalam antologi Ijinkan Aku Mencintaimu. Puisi itu ditulis berdasarkan penelitian pada bulan madu yang dialami dirinya sendiri, teori dan yang dialami oleh orang lain. Abdul Wachid Bs. telah melakukan penggabungan antara rasionalisme dan empirisisme. Jadi, jika demikian pembangunan ide yang dilakukan Achid dalam puisinya sangat kuat dan tajam, dan referensinya juga kuat. (2) Bagaimana karakteristik menggurui pembaca tidak lagi muncul dalam puisi Hasta.

Catatan-catatan di atas merupakan sebuah control eksternal-kontruktif sebagai upaya untuk memperbaiki bersama dan merupakan upaya (wa tawa shaubil-haq wa tawa shau bis-shabr) mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (QS al-ashr:3). Tidak ada ceritanya, seniman atau sastrawan, tidak punya kepedulian pada sesama, lingkungan dan alam semesta. Apa artinya kata-kata jika kita tidak punya rasa, apa artinya rasa jika tidak ingin berbagi pada sesama. Maka semuanya akan absurd, akan terjadi tsunami pada batin kita masing-masing karena dikejar oleh image-image yang membuat diri terasing. Oleh karena itu puisi dalam antologi ini telah sah menjadi puisi, namun belum menjadi teks sastra yang dapat menggugah pembaca untuk berimajinasi lebih jauh dan mendalam. Tidak sebagaimana puisi-puisinya Chairil Anwar, Sutardji Colzoum Bahri, D. Zawawi Imron, Acep Zam-zam Noor yang lumayan nikmat dan imajinatif. Membaca satu di antara sajak-sajak mereka seperti membaca ribuan lembar sejarah umat manusia, filsafat, sosiologi, tasawuf dan lain sebagainya. Wallu A?lam.

Penulis adalah santri di Pesantren Budaya Hasyim Asy?arie & Pengelola Roma Seni Bungkal Madura-Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *