Pluralisme dan Nasionalisme: Gus Dur dan Frans Seda

Ignas Kleden
majalah.tempointeraktif.com

LAHIR dan mati adalah peristiwa harian. Tapi kematian dua orang pada akhir 2009 mendapat perhatian khusus karena bertepatan dengan penutupan tahun, dan karena yang wafat adalah dua tokoh seperti Gus Dur dan Frans Seda. Gus Dur wafat pada 30 Desember pukul 18.45, dan Frans Seda menyusul sehari sesudahnya, pukul 05.00. Keduanya berpulang sebagai pribadi yang penting dan menarik, sebagai pemimpin yang meninggalkan jejak, baik pemimpin golongannya maupun pemimpin berkaliber nasional. Continue reading “Pluralisme dan Nasionalisme: Gus Dur dan Frans Seda”

Ignas Kleden: Sparatisme Hanyalah Humor Kekuasaan

Hartono Harimurti
suaramerdeka.com

MARTABAT negeri ini sedang dipertanyakan. Berbagai persoalan: larangan terbang pesawat Indonesia ke Eropa, penganiayaan tenaga kerja wanita di luar negeri, dan ancaman disintegrasi bangsa tak bisa lagi dielakkan. Ada yang salah dalam sistem sosial dan kebudayaan kita? Mengapa kita tak bisa segera bangkit dari keterpurukan? Ignas Kleden, salah satu pemikir kebudayaan Indonesia, sedih sekali melihat kenyataan itu. Continue reading “Ignas Kleden: Sparatisme Hanyalah Humor Kekuasaan”

Biografi singkat Ignas Kleden

Nama: Ignatius Nasu Kleden
Lahir:Larantuka, Flores Timur, 19 Mei 1948
Agama: Katolik
Pendidikan:-Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores,1972.
– Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (MA Filsafat), 1981.
– Universitas Bielefeld (doktor sosiologi), Jerman, 1995 Karir:- Penerjemah buku-buku teologi pada penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Continue reading “Biografi singkat Ignas Kleden”

Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

Ignas Kleden *
majalah.tempointeraktif.com

TAN Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok. Continue reading “Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis”

Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri *

Ignas Kleden **
Kompas, 04 Agu 2007

Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi. Continue reading “Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri *”

Bahasa ยป