Biografi singkat Ignas Kleden

http://ignaskleden.blogdrive.com/archive/7.html
Nama: Ignatius Nasu Kleden
Lahir:Larantuka, Flores Timur, 19 Mei 1948
Agama: Katolik
Pendidikan:-Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT
Ledalero, Maumere, Flores,1972
– Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (MA Filsafat), 1981
– Universitas Bielefeld (doktor sosiologi), Jerman, 1995 Karir:- Penerjemah buku-buku teologi pada
penerbit Nusa Indah, Ende, Flores
– Editor penerjemahan buku-buku ilmu sosial pada Yayasan Obor
Internasional, Jakarta
– Koordinator penerbitan pada Yayasan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta
– Staf peneliti LP3ES, Jakarta
– Peneliti pada Yayasan SPES di Jakarta
Keluarga:
Istri : Dr. Ninuk Probonegoro
Anak : Pascal Kleden
Alamat Rumah:- Jalan Sawo I/19, Cipete Utara, Jakarta Selatan Telepon 7246037 – Taman Rempoa Indah D7, Rempoa, Ciputat 15412 Telepon 7356265 Alamat

Kantor:- Yayasan SPES, Jalan Tebet Dalam IV/39, Tebet Barat, Jakarta Selatan Telepon 8303689 – AAI, Jalan Probolinggo 4, Jakarta 10350

Lantaran melayani misa pribadi dengan memakai sandal—walau masih pakai toga panjang—Ignas Kleden ditegur pastor. Ia dianggap tak sopan. Dalam keadaan mengantuk, calon pastor Ignas berkata, “Bagaimana Romo bisa tahu bahwa Tuhan lebih suka sepatu daripada sandal?” Tak dijelaskan Ignas apa jawaban sang pastor. Tapi itulah “kenakalan”-nya ketika masih menempuh pendidikan di sebuah seminari di Flores. Namun itu juga mencerminkan kecerdasannya. Ia bisa masuk ke sekolah calon pastor itu berkat predikat lulusan terbaik di sekolah dasar.

Terlahir dari keluarga guru, ayahnya kepala sekolah dasar. Sang ayah sejak awal sudah ragu apakah Ignas bisa terus bertahan di seminari —
meski pada awalnya Ignas cukup serius dengan keinginan menjadi pastor.

Setelah beberapa tahun di seminari, Ignas mulai menimbang-nimbang: “Jika menjadi pastor, saya harus berkhotbah,” katanya. “Padahal, saya merasa tidak bisa menjadi pengkhotbah yang baik.” Sebaliknya. dengan bahasa Latin yang dia kuasai, ia menganggap dirinya mampu mengembangkan gagasan keilmuan dengan menulis.

Ignas pun keluar dari seminari — padahal tinggal satu tahun lagi ditahbiskan menjadi pastor. Keluarganya sempat kecewa. “Tapi, bagaimana lagi. Untuk menjadi imam harus ada kemauan dari beberapa belah pihak. Kemauan dari saya yang melamar, kemauan dari pimpinan serikat yang menerima, dan kemauan dari gereja,” tutur Ignas.

Ignas mengenyam pendidikan tinggi di Jerman. Gelar sarjana muda ia dapatkan di sana. Gelar master of art bidang filsafat diperoleh dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen. Untuk S3-nya ia mengambil sosiologi dari Universitas Bielefeld.

Ketika masih di Flores, ia sudah sering kontak dengan majalah Basis di Yogya, Budaya Jaya di Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah TEMPO. Setelah hijrah ke Ibu Kota, 1974, Ignas makin aktif menulis baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolomnis tetap TEMPO. Selain menulis, sosiolog dan sarjana filsafat ini banyak berkarir pada perbukuan dan penelitian. Ia pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Di Jakarta, Ignas sampat bekerja sebagai editor di beberapa penerbit buku, sampai akhirnya menjadi peneliti di lembaga penelitian The Society for Political and Economical Studies. Pada 2000, ia turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur. Penguasaan beberapa bahasa asing, latar pendidikan teologis, filsafat dan sosiologi banyak membantu peningkatan karirnya.

Bermusik telah ia gemari sejak di seminari. Musik klasik adalah kesukaannya. Kalau ingin yang manis-manis, ia mendengarkan Mozart. Jika mau yang sedikit berenergi, “Saya mendengarkan Bethoven atau Bach,” kata pengagum Russell dan Einstein ini.
Ia pun peminat sastra, baik sastra dunia seperti sastra Rusia, Jerman, maupun sastra negeri. Untuk Indonesia, ia terutama menyukai prosa Pramoedya Ananta Toer, serta puisi Chairil Anwar dan Amir Hamzah.

Ignas menikah dengan sesama peneliti, Ninuk Probonegoro, di Leiden, Belanda, 1980, sewaktu Ninuk sekolah di sana. Setahun kemudian, pasangan ni dikaruniai seorang anak. “Proses kelahiran anak menyertakan eksistensialisme. Ternyata, anak melahirkan bapaknya dan anak juga melahirkan ibunya. Lelaki tanpa anak tidak akan menjadi bapak dan perempuan tanpa anak tidak akan menjadi ibu,” ujar Ignas.

Sumber:PDAT
Dijumput dari: http://ignaskleden.blogdrive.com/archive/7.html