Gerimis Logam

Indra Tranggono

Gerimis yang turun seperti jarum-jarum logam pada senja itu gagal mengirimkan harum tanah dan hawa sejuk ke ruang sebuah paviliun di pinggang bukit itu. Jaket dan sweater memang tetap melekat di badan, tapi panas di kepala sangat sukar ditahan. Entah sudah berapa kali gelas-gelas dituang kopi panas. Entah sudah berapa puluh puntung rokok menggunung dalam asbak. Ruang itu tetap saja dibungkus asap. Ribuan kata pun meluncur dari belasan mulut. Kata-kata itu menjelma ular kalimat yang saling mendesak, saling menindih, saling menghantam, dan saling memagut. Continue reading “Gerimis Logam”

PRT yang Tak Seindah Novelnya

Indra Tranggono
Kompas, 15 Jan 2011

IYEM, Turah, Karti, Bejo, Darman, Lasimin, atau siapa saja nama yang umumnya dimiliki pekerja rumah tangga itu selalu dikenang dengan penuh rasa kehilangan justru ketika mereka tidak ada. Misalnya ketika mereka mudik Lebaran.

Para Tuan dan Puan—keluarga menengah dan atas yang mempekerjakan mereka—pun akan pontang-panting mengatasi persoalan domestik: dari mencuci, menyapu, belanja, memasak, hingga soal tetek bengek lainnya. Continue reading “PRT yang Tak Seindah Novelnya”

Dua Peziarah

Indra Tranggono
sinarharapan.co.id

ANGIN terasa mati, ketika perahu yang ditumpangi Sureng membelah hamparan air danau. Gerak dayung dua pengemudi perahu mengirim bunyi kecipak ke gendang telinga laki-laki berbadan kurus, berambut lurus dan berwajah tirus itu. Sureng, sambil menyulut rokoknya, menoleh ke belakang, menatap dermaga yang semakin mengecil. Lampu-lampu tampak menggigil. Aroma tembakau beredar di udara sekitar. Dalam keremangan cahaya bulan, seorang wanita, yang sejak perahu itu meninggalkan dermaga duduk terdiam, tampak menutup hidungnya. Continue reading “Dua Peziarah”

Upacara Menunggu Kunang-kunang

Indra Tranggono
entertainmen.suaramerdeka.com

SEJAK pindah di kota Glazy, aku sering disekap kesunyian yang begitu kukuh, begitu perkasa. Apalagi bila senja mulai merambati langit, merambati perbukitan, merambati lembah-lembah, merambati gerumbulan pepohonan pinus, tangan-tangan kesunyian yang muncul dari pori-pori waktu, memelukku kuat-kuat, hingga aku seperti terjerat. Lalu, malam menyempurnakan dengan kegelapan. Dan satu-satunya hiburanku hanyalah melihat tarian kunang-kurang terbang; jumlahnya bisa ribuan bahkan bisa jutaan. Continue reading “Upacara Menunggu Kunang-kunang”

Ayah Sering Mencuri Lipstik Ibu

Indra Tranggono
suaramerdeka.com

AKU sering melihat Ayah mencuri lipstik Ibu untuk memerahkan bibirnya semerah bibir Ibu. Aku juga sering melihat dia mengoleskan pemerah pipi dan eye shadow, hingga wajahnya tampak lebih cantik dari wajah Ibu. Diam-diam, Ayah pun sering memakai BH Ibu dan menyumpalnya dengan gumpalan kain, hingga dadanya tampak padat berisi. Tak ketinggalan, Ayah memakai wig blonde Ibu, memadunya dengan gaun hitam dan blus warna musim semi. Ayah pun berputar-putar di depan cermin, mengagumi penampilannya. Continue reading “Ayah Sering Mencuri Lipstik Ibu”

Bahasa »