Orang Besar

Indra Tranggono *
jawapos.com

ADA pertanyaan yang mengusik jiwa ketika duka itu tiba. Kenapa manusia besar dan baik dipanggil Tuhan lebih cepat? Rendra, Gus Dur, Frans Seda, Munir, dan lainnya ”begitu cepat” meninggalkan bangsa yang selalu didera derita ini.

Tentu, pertanyaan itu bernuansa egois. Tuhan selalu punya perhitungan sendiri. Dan, maksud Tuhan selalu baik. Maka, kita pun harus ikhlas melepas manusia-manusia besar itu meski dada terasa sesak. Continue reading “Orang Besar”

Visi Kebudayaan Capres

Indra Tranggono *
kr.co.id

MESKIPUN sering mengaku menjunjung tinggi kebudayaan, bangsa kita belum menjadikan kebudayaan sebagai basis pembangunan. Pendekatan yang dipakai cenderung parsial: politik dan ekonomi yang kurang mempertimbangkan asas demokrasi, keadilan dan pemerataan.

Politik menjadi primadona pada era kekuasaan Orde Lama Soekarno. Atas nama “revolusi belum selesai” dan character building, Soekarno menggunakan politik sebagai panglima. Continue reading “Visi Kebudayaan Capres”

Dongeng, Teater Kearifan di Kepala

Indra Tranggono
jawapos.com

DONGENG telah memukau kita sejak anak-anak hingga masa tua. Kita ingat ketika kakek-nenek atau ayah-ibu bercerita tentang Timun Emas, Kancil Nyolong Timun, Buto Ijo, Sangkuriang, dan lainnya. Melalui narasi-narasi lisan itu, kita diajak memasuki jagat petualangan yang indah. Kita pun dapat mengenali berbagai watak tokoh. Saking menariknya watak mereka, tokoh-tokoh itu seperti benar-benar ada dan begitu dekat dengan kita. Bahkan, hingga hari ini mereka masih ngendon da?lam pita ingatan kita. Continue reading “Dongeng, Teater Kearifan di Kepala”

Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu

Indra Tranggono
jawapos.com

Tubuh Sateer membeku. Kapan jantungnya memutuskan untuk berhenti berdegup, hanya dia yang tahu. Sebuah riwayat telah ditutup dengan cara yang begitu teaterikal.

Di reruntuhan bangunan dekat pasar dan rumah ibadah di Kota Dazblath, Sateer merencanakan sendiri kematiannya. Tubuhnya serupa melayang di udara. Di lantai tiga sebuah gedung yang tidak utuh lagi, Sateer mengikatkan kedua tangannya pada kabel-kabel tembaga berukuran jempol kaki orang dewasa. Tubuhnya menjadi serupa kain yang menjuntai, melambai, bergenteyongan di udara. Baju longgarnya yang serbaputih –serupa jubah– berkibar-kibar. Continue reading “Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu”

Kristal-Kristal Kesunyian

Indra Tranggono
jawapos.com

Ya, kesunyian telah lama mengkristal di kota kami. Kesunyian telah memadat, nyaris tanpa celah, tanpa rongga atau sekadar pori-pori. Kesunyian telah menjelma serupa dinding kaca. Bening. Bercahaya. Namun tak teraba. Kami, yang tinggal di dalamnya, hanya bisa melambai-lambaikan tangan sebagai uluk salam bagi sahabat, kawan, dan handai taulan yang selalu datang dan menghilang. Continue reading “Kristal-Kristal Kesunyian”

Bahasa ยป