Sufisme Humanistik dalam “Perawan Mencuri Tuhan”

Ahmad Syauqi Sumbawi *

Sufisme humanistik, berangkat dari konsep-konsep al-Qur’an terkait keberadaan manusia dalam kehidupannya. Pada konteks ini, al-Qur’an menyebut manusia dalam beberapa terminologi, yaitu abd Allah, al-basyr, al-insan, al-naas, bani Adam, al-ins, dan khalifah fi al-ardl. Dari terminologi-terminologi tersebut, yang kemudian dikombinasikan dengan perspektif filosofis-antropologis, setidaknya didapatkan sebuah formulasi pemahaman atas keberadaan manusia dalam kehidupan secara luas, yaitu pertama, sebagai hamba Tuhan yang dituntut untuk mengenal dan mencintai Tuhannya. Continue reading “Sufisme Humanistik dalam “Perawan Mencuri Tuhan””

Persatuan Indonesia

Sanusi Pane

Dalam karangan “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru dalam Pujangga Baru”, yang dikutip juga dalam Suara Umum ini, Tuan Sutan Takdir Alisjahbana membagi sejarah kita dalam dua bagian, zaman pra-Indonesia, sampai akhir abad ke-19, dan zaman Indonesia, yakni setelah masa itu. Zaman Indonesia tidak dapat dianggap kelanjutan atau terusan zaman pra-Indonesia.

Continue reading “Persatuan Indonesia”

Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru

Indonesia – Prae-Indonesia *)
Sutan Takdir Alisjahbana

Berbicara tentang masyarakat dan kebudayaan baru, yang dimaksud tentu adalah masyarakat dan kebudayaan Indonesia Raya, yakni masyarakat dan kebudayaan yang tergambar dalam hati semua penduduk kepulauan ini, terutama yang mengharapkan tempat yang layak bagi negeri dan bangsanya, berdampingan dengan bangsa lain di muka bumi ini. Untuk membicarakan masyarakat dan kebudayaan Indonesia Raya, pertama sekali kita harus memahami arti Indonesia sejelas-jelasnya, terlepas dari segala bungkusan dan tambahan yang mengaburkannya. Continue reading “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”

Bahasa »