Indonesia Paceklik Kritik Sastra

Gunoto Saparie *
Koranmuria.com 25 Okt 2016

Perkembangan sastra Indonesia hari-hari ini sangat pesat. Orang sulit menghitung jumlah karya sastra yang terbit saat ini. Para penulis sastra bermunculan dari berbagai daerah bahkan bisa dikatakan setiap daerah mempunyai puluhan penulis sastra atau pun ratusan. Di koran dan majalah para sastrawan muda bermunculan. Komunitas-komunitas sastra bertebaran. Akan tetapi, perkembangan yang menggembirakan itu berjalan tanpa kritik sastra. Sastra Indonesia hari-hari ini boleh dibilang krisis atau paceklik kritikus. Continue reading “Indonesia Paceklik Kritik Sastra”

Kritik Sastra Indonesia Kehilangan Arah?

Fadjriah Nurdiarsih
lifestyle.liputan6.com

Dasmir (50 tahun), seorang guru SMP di Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat, mempertanyakan tak adanya acuan dalam mengajarkan esai dan kritik sastra dalam kurikulum Bahasa Indonesia. Walhasil, anak-anak tak cinta dan tak suka menulis kritik dan esai. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan novel-novel berkualitas di kotanya. “Toko buku di kota kami hanya ada satu. Itu pun koleksinya terbatas sekali,” ujarnya seraya menggugat dalam acara Seminar Nasional Kritik Sastra pada 15-16 Agustus 2017 di Aula Sasadu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Rawangun. Continue reading “Kritik Sastra Indonesia Kehilangan Arah?”

Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru

Hasnan Bachtiar *

Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam nabi, supaya sejarah menjadi jinak dan mengirim sepasang merpati – Kuntowijoyo –

UPAYA susastra seorang sastrawan, adalah aktivitas sejarah. Betapapun di era kontemporer ini marak dikumandangkan karya sastra yang dianggap otonom, maka penulis sastra tidak pernah terbang dari bumi di mana ia berpijak. Continue reading “Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru”

Bahasa »