Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam

Dami N. Toda

Membicarakan kritik sastra, tidak terlepas dari pengertian peran dan tujuannya terhadap karya sastra. Gayley dan Scott, misalnya menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “mencari kesalahan, memuji, menghakimi, membanding-bandingkan dan menikmati”, H.B. Jassin menerangkan tugas kritik sastra “menjembatani dan memberikan penilaian”, I.A. Richards, yang sering disebut sebagai pemula prinsip kritik sastra modern, menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “membeda-bedakan pengalaman serta memberikan penilaian sekadarnya terhadap karya sastra”. Continue reading “Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam”

Saintisme dan Momok-momok Lain:

Interupsi untuk Goenawan Mohammad dan A.S. Laksana

F. Budi Hardiman

Goenawan Mohamad (selanjutnya GM) dan A.S. Laksana (selanjutnya ASL) berdebat di Facebook. Dibanding perdebatan politis di TV yang kerap tidak lebih dari hembus angin, perdebatan tertulis mereka punya mutu yang merangsang nalar. Belum banyak yang mereka gali. Mereka berselisih sikap atas sains. Tapi sayang sekali, mereka bertarung tanpa membedakan kancah mereka. Kedua penulis berdebat dalam area-area yang berbeda dalam diskusi sains. Continue reading “Saintisme dan Momok-momok Lain:”

Kepastian Sains dan Pencarian Kebenaran

Lukas Luwarso

Menarik membaca esai Goenawan Mohamad (GM) tentang “Sains dan Masalah-Masalahnya”, menanggapi tulisan AS Laksana, “Sains dan Hal-Hal Baiknya.” Uraian GM membawa saya, peminat sains dan filsafat, ke perdebatan nostalgic wacana intelektual paruh pertama era 1900-an. GM memanggil nama-nama filsuf besar, seperti Edmund Husserl, Martin Heidegger, dan Karl Popper untuk menegaskan posisi sentimennya pada sains. Continue reading “Kepastian Sains dan Pencarian Kebenaran”

Heidegger dan Pengabaian Goenawan Mohamad

Dwi Pranoto

Tulisan A.S. Laksana “Sains dan Hal-Hal Baiknya” dan sanggahan Goenawan Mohamad (GM) “Sains dan Masalah-Masalahnya, Sulak dan Dua Kesalahannya”, sebenarnya sama-sama menyokong sains. Namun keduanya dipisahkan oleh sains sebagai praksis dan “sains sebagai ide”. Oleh karenanya, A.S. Laksana dalam “Sains dan Hal-Hal Baiknya” lebih menyodorkan bukti-bukti mengenai manfaat sains untuk memecahkan masalah aktual dan memudahkan kerja manusia. Pada sisi lain, Goenawan berupaya membawa sains lebih pada semacam situasi-situasi kritisnya yang ditandai oleh kejumudan. Continue reading “Heidegger dan Pengabaian Goenawan Mohamad”

Bahasa »