KRITIK SEORANG DARA PADA LELAKI ISENG

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

?Rumah Dara? adalah cerpen pertama Titis Basino yang dimuat majalah Sastra, No. 12, Th. II, 1962. Sebagai cerpen seorang pemula yang ditulis Titis dalam usia 23 tahun ketika ia menjadi mahasiswa FSUI, tentu saja cerpen ini tergolong mengejutkan. Bahasanya mengalir tenang, potret sosial yang diangkatnya barangkali mewakili kondisi anak dara seusia itu pada zamannya, dan emosi yang dihembuskan si tokoh aku, terkesan begitu arif dan matang. Sepertinya, tokoh aku dalam cerpen itu laksana seorang dewasa yang melihat teman-teman sebayanya berbuat sesuatu yang tak pantas menurut norma. Continue reading “KRITIK SEORANG DARA PADA LELAKI ISENG”

SIHIR CHANDRA JOHAN

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Chandra Johan: pelukis yang saya kenal ketika kami bersama di Dewan Kesenian Jakarta (2003?2005). Suatu saat, dalam sebuah obrolan santai, ia memperkenalkan sejumlah koleksi lukisannya. Amboi! Lukisan apakah gerangan? Bagaimana mungkin, sesuatu?lukisan-lukisan itu? yang belum saya pahami maknanya, tiba-tiba menciptakan serangkaian keterpanaan. Saya benci lukisan-lukisan itu. Sebab, tanpa kompromi seketika ia membelit saya pada ketakberdayaan: saya tak berdaya menghindar aura pesonanya. Continue reading “SIHIR CHANDRA JOHAN”

PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA-MELAYU DI INDONESIA DALAM KONTEKS SISTEM PENDIDIKAN

Maman S. Mahayana *

Bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia sekarang.

Itulah pernyataan butir 8 Keputusan Seksi A dalam Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan yang berlangsung 28 Oktober—2 November 1954. Keputusan itu secara eksplisit menegaskan kembali bahasa Melayu sebagai asal dan dasar bahasa Indonesia. Continue reading “PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA-MELAYU DI INDONESIA DALAM KONTEKS SISTEM PENDIDIKAN”

SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

(Bagian I)
Sesungguhnya, sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal tradisi menulis surat. Para raja pada zaman kerajaan dahulu, wali-wali dan para penyebar aga-ma atau sultan-sultan ketika agama Islam menyebar dan berkembang di pelosok Nu-santara, sudah terbiasa melakukan korespondensi, baik dengan saudara atau sahabat-sahabat baiknya, maupun dengan pihak lain yang mungkin belum dikenalnya. Keda-tangan bangsa Eropa ke Nusantara, makin memperluas tradisi korespondensi mereka. Continue reading “SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA”

WISATA DI SEPUTAR TUGU MONAS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tugu Monumen Nasional (Monas), kini tampil dengan wajah baru. Penataan interior taman tampak memancarkan kenyamanan. Pagar setinggi hampir dua meter yang mengelilingi kompleks Monas menjadikan kawasan itu bebas pedagang asongan. Ternyata, tujuannya bukan sekadar itu. Sekelompok menjangan yang sengaja didatangkan dari Istana Bogor, berkeliaran bebas di sekitar Tugu Monas. Sementara, emas seberat 100 kg yang tegak berkilau di puncak Monas, seperti ikut terkesima. Jika pagi hari, banyak orang berolahraga santai di sana. Continue reading “WISATA DI SEPUTAR TUGU MONAS”

Bahasa »