LUKA SEJARAH DALAM SAJAK-SAJAK PENYAIR RIAU?

Maman S. Mahayana *

Kultur Melayu dengan luka sejarah masa lalu, dianggap sebagai kecelakaan dengan akibat dan kepahitannya menjadi beban generasi sekarang. Dalam wilayah keindonesiaan, problem sosial itu tidak jarang ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan sentralitas hubungan Jakarta -Daerah yang secara faktual malah memarjinalkan puaknya. Dominasi Jakarta, dirasakan sebagai monster. Akibatnya, kehidupan masyarakat persekitaran yang penuh koyak-moyak luka itu jadi pemandangan yang menggelisahkan. Dari sanalah tuntutan untuk bersuara nyaring hadir tidak sekadar sebagai tanggung jawab sosialnya, tetapi juga sebagai sebuah perjuangan sosio-kultural. Continue reading “LUKA SEJARAH DALAM SAJAK-SAJAK PENYAIR RIAU?”

PUISI SEBAGAI KATA HATI (1)

Kegelisahan Sekjen Departemen Pertanian

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Memed Gunawan, M.Sc., Ph.D. meluncurkan dua antologi puisinya, Ladang Berselimut Kabut (Jakarta, 2005; xi + 74 halaman) dan Setangkai Padi, Seisi Negeri (Jakarta, 2005; ix + 85 halaman). Taufiq Ismail dalam Kata Pengantarnya, berharap: ?Betapa dahsyatnya kalau Sekjen-Sekjen Departemen lain juga menulis kumpulan puisi dalam bidangnya masing-masing.? Pertanyaannya kini: Apanya yang dahsyat? Continue reading “PUISI SEBAGAI KATA HATI (1)”

PUISI SEBAGAI KATA HATI (2)

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Konon, salah satu fungsi sastra adalah menjadikannya semacam katarsis: pelepasan emosi ketika berbagai masalah melimpah, bertumpuk-tumpuk, membebani, dan menghimpit segala gerak pikir dan gerak rasa kita. Sastra dapat melepaskan sebagian dari segala beban itu. Di samping itu, sastra ?dengan atau tanpa pretensi? sering juga dipandang sebagai ungkapan jujur dari perasaan yang terdalam. Continue reading “PUISI SEBAGAI KATA HATI (2)”

POTRET BETAWI DALAM PUISI-PUISI RIDWAN SAIDI

Maman S. Mahayana *

Sastra Betawi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sastra Indonesia, selama ini berada dalam posisi marjinal, terpinggirkan. Padahal, jika kita merunut ke belakang, ke sejarah awal pertumbuhan kesusastraan Indonesia, maka boleh jadi embrio pembentukan sastra Indonesia justru dimulai dari sastra Betawi, kesusastraan Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu-Betawi yang kemudian secara sepihak dikategorikan sebagai bacaan liar. Continue reading “POTRET BETAWI DALAM PUISI-PUISI RIDWAN SAIDI”

PROFESOR ANEH YANG SASTRAWAN: AYATROHAEDI

Maman S. Mahayana *

Mang Ayat! Itulah panggilan akrab Prof. Dr. Ayatrohaedi, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Salah seorang penggagas perubahan nama Fakultas Sastra UI (FSUI) menjadi FIB-UI ini, boleh dikatakan tergolong ilmuwan yang agak aneh. Di Universitas Indonesia, misalnya, dapat dipastikan, hanya Mang Ayat satu-satunya guru besar yang disapa dengan panggilan Mang. Continue reading “PROFESOR ANEH YANG SASTRAWAN: AYATROHAEDI”

Bahasa ยป