CERPEN INDONESIA KONTEMPORER

Maman S. Mahayana *

Dalam perjalanan sastra Indonesia, periode pasca-reformasi merupakan masa paling semarak dan luar biasa. Kini, karya-karya sastra terbit seperti berdesakan dengan tema dan pengucapan yang beraneka ragam. Faktor utama yang memungkinkan sastra Indonesia berkembang seperti itu, tentu saja disebabkan oleh perubahan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan. Kehidupan pers yang terkesan serbabebas-serbaboleh ikut mendorong terjadinya perkembangan itu. Maka, kehidupan sastra Indonesia seperti berada dalam pentas terbuka. Di sana, para pemainnya seolah-olah boleh berbuat dan melakukan apa saja. Continue reading “CERPEN INDONESIA KONTEMPORER”

CERPEN-CERPEN PUITIK MAROELI

Maman S. Mahayana *

“Tengah malam tuba. Angin berdesir. Beribu ular berdesir. Tanganku berdesir. Itu tubuh/mengucur darah/mengucur darah.” Itulah kalimat-kalimat pembuka “Solilokui Ungu,” sebuah cerpen yang mengawali antologi cerpen Bara Negeri Dongeng (Yogyakarta: Jalasutra, September 2002, 183 halaman) karya Maroeli Simbolon. Di sana ada penggalan-penggalan puisi “Isa” karya Chairil Anwar. Continue reading “CERPEN-CERPEN PUITIK MAROELI”

MENGUSUNG KECENDERUNGAN DAN MAINSTREAM ESTETIK

Tentang Tiga Antologi Cerpen Creative Writing Institute
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Siapakah gerangan penggerak di balik layar Creative Writing Institute (CWI), sebuah lembaga baru yang konon bergiat di bidang pelatihan penulisan kreatif. Barangkali CWI ini semacam sanggar yang membina kaum muda agar menekuni bidang penulisan kreatif. Pertanyaannya: apakah mungkin penulisan kreatif dapat dilatihkan macam kegiatan olahraga? Bukankah ?sebagaimana anggapan sebagian besar masyarakat? menjadi penulis ?sastrawan?memerlukan talenta dan bakat yang luar biasa? Jawabannya Continue reading “MENGUSUNG KECENDERUNGAN DAN MAINSTREAM ESTETIK”

LINGKUNGAN HIDUP DALAM SASTRA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Konon, lapisan ozon kini makin menipis. Tanpa lapisan itu, manusia segera akan tertimpa penyakit kanker kulit, katarak mata, dan berbagai penyakit lain. Panas bumi juga akan meningkat. Jika itu terjadi maka Singapura, akan tinggal sebagai negara yang pernah ada dan kini berada di dasar laut. Sebagian besar Jakarta tenggelam karena mencairnya es di kutub Utara dan Selatan. Jagat raya tinggal menunggu kehancurannya. Pemanfaatan, eksplorasi, dan eksploitasi alam secara tak terkendali mempercepat proses penghancuran planet bumi ini. Continue reading “LINGKUNGAN HIDUP DALAM SASTRA”

PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN

Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi

Maman S. Mahayana *

Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu. Continue reading “PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN”

Bahasa »