Punakawan, Musuh, dan Moralitas Politik dalam “Perang”-nya Putu Wijaya

M.D. Atmaja

Politik memiliki manifestasi nilai di dalam jalan cerita. Seperti yang akan kami bahas di dalam tulisan ini, adalah mengenai isu politik di dalam novel Perang (2002) karya Putu Wijaya (PW). Melalui tulisan ini, kami tidak bermaksud mengetengahkan penjabaran yang panjang lebar, akantetapi hanya gambaran sekilas mengenai manifestasi nilai politik di dalam bangunan karya sastra. Novel Perang memiliki nuansa politis yang terbangun di alur ceritanya. Hal ini bisa dilihat dari garis besar cerita yang menggambarkan mengenai perseteruan dua kerajaan besar Astina dan Amarta. Continue reading “Punakawan, Musuh, dan Moralitas Politik dalam “Perang”-nya Putu Wijaya”

Pengabdian Ala Sastrawan Lekra

M.D. Atmaja

Mengkaji keterkaitan antara karya sastra dengan kondisi sosio-budaya dan politik berarti melihat fungsi sosial sastra sebagai media propaganda yang dapat dijadikan sebagai media untuk mempengaruhi dan menggerakkan masyarakat pembaca. Sastra menempati posisi sebagai suara yang mengajak (atau setidaknya memberikan informasi) untuk melakukan perubahan, menjaga stabilitas (dan) keharmonisan kehidupan, telah melahirkan cabang ilmu sastra baru. Cabang ilmu ini mengambil dasar pada sejarah dalam proses penciptaannya yang kemudian disebut dengan realisme sosialis. Continue reading “Pengabdian Ala Sastrawan Lekra”

Hegemoni Sastra: Media Pengkultusan dan Perlawanan

M.D. Atmaja

Karya sastra sebagai lembaga masyarakat yang bermediumkan bahasa memiliki keterkaitan yang erat dengan sosiologi pengarangnya. Latar belakang pengarang memiliki peran yang besar dalam memberikan nuansa dan nilai dalam proses penciptaan karya sastra. Latar belakang tersebut, di dalamnya merangkum berbagai macam kondisi dimana sang pengarang memijakkan kaki, entah itu kondisi politik yang sedang bergejolak, maupun ideologi pengarang itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan di dalam proses penulisan karya sastra dapat dikatakan sebagai media yang tidak bersifat individual, melainkan di dalamnya mengandung sifat evolusi-sosial. Continue reading “Hegemoni Sastra: Media Pengkultusan dan Perlawanan”

Sebutir Nasehat di Tepi Nasi

M.D. Atmaja

Dini hari terasa begitu dingin. Tidak seperti biasanya. Gerakan angin tidak terasa namun dinginnya membekukan tulang. Udara juga bersih dari riang jangkrik. Tidak ada gerakan sama sekali. Malam seperti telah berada di dalam kekosongan. Tanpa kehidupan. Berjalan pelan namun sangat pasti tanpa terhalangi apa pun. Berdetak dalam detik yang terus berganti sebagai langkah yang tidak bisa undurkan. Perjalanan waktu. Continue reading “Sebutir Nasehat di Tepi Nasi”

Perjumpaan Singkat di Desa

M.D. Atmaja

Sepulang kerja, Dhimas Gathuk telah menemui Kangmas-nya yang sering berpetualang tidak jelas arah. Saudara tua yang sangat jarang sekali dapat dia temui walau mereka berada di satu rumah. Ini karena Kangmas Gothak lebih sering menjelajah kehidupan dan menemukan pemahaman ketimbang duduk manis di tempat enak dan menikmati dunia. Kangmas Gothak telah menjadi pengembara semenjak mereka masih kecil, semenjak kedua orang tuanya masih ada. Diketika dia menjadi Bapak, Ibu, dan juga seorang Kakang, Kangmas Gothak menyembunyikan hasrat untuk berjelajah. Dia merawat adiknya, sampai dirasa cukup mampu mengurus diri lalu pergi. Continue reading “Perjumpaan Singkat di Desa”

Bahasa ยป