Catatan Perjalanan di Bogor dan Bertemu Emil Ola Kleden (IV)

Muhammad Yasir

Setelah menyelesaikan “The Death of Ivan Ilyich” karya Leo Tolstoy dan mempelajari teror negara yang lahir dari kecemasan sekian warga negara Indonesia, aku menyimpulkan bahwa langit Bogor selama perjalananku di sana seperti wajah seorang perempuan tua, tetanggaku, memarahi seorang anak lelaki, anak seorang tukang becak, yang tidak sengaja memecahkan vas bunga miliknya. Dalam hukum akal sehat dan nuraniku, anak lelaki itu tidak bersalah bukan karena ketidaksengajaan, tetapi hembusan angin kencang itulah yang mengarahkan bola ke vas bunga itu. Apa peduli? Continue reading “Catatan Perjalanan di Bogor dan Bertemu Emil Ola Kleden (IV)”

Catatan Perjalanan dan Menciptakan Ruang (II)

Muhammad Yasir

Aku sedang kelaparan dan harap-harap cemas karena anak kedua kami belum pulih betul. Keadaan seperti ini mengancam individualku sebagai manusia dan perspektifku sebagai seorang penyair yang kadang tidak hanya menulis puisi untuk meredam gejolak di dada dan pikiranku. Meski demikian, aku tetap duduk dan menahan di kursi kayu mewah milik keluarga besar Istriku yang baik kepadaku untuk menyelesaikan catatan ini dan kerja-kerja morilku sebagai bagian dari penindasan dan penderitaan yang terstruktur dan sistematis. Continue reading “Catatan Perjalanan dan Menciptakan Ruang (II)”

Bahasa »