Rupa-Rupa Patung Seni Rupa yang Terkoyak

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.com

Jika Herbet Read mengatakan bahwa seni adalah kesatuan utuh yang serasi dari semua elemen estetis -garis, ruang, warna- yang terjalin dalam satu kesatuan utuh yang disebut bentuk, patung adalah bagian keluarga besar seni rupa. Patung adalah seni rupa berdimensi tiga yang dengan pandangan kedalaman (depth) -pinjam istilah Graham Collier- patung tak hanya bisa dipandang, disentuh, diraba, melainkan juga bisa dirasakan dan didengar gerak iramanya lewat lekuk cembungnya volume, hampa padatnya ruang, terang-gelapnya warna, halus-kasar, serta besar kecilnya skala (But Muchtar dalam Soedarso S.P. 1992: 23). Continue reading “Rupa-Rupa Patung Seni Rupa yang Terkoyak”

Rupa-Rupa Celeng Seni Rupa

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.co.id

JUNI bukan hanya bulan hujan seperti dalam puisi liris Sapardi Djoko Damono, tapi juga bulan celeng. Dua kali politik nasional menjadikan celeng sebagai pusaran kontroversi. Celeng pertama terkait dengan usul Partai Golkar ihwal dana aspirasi setiap anggota DPR Rp 15 miliar untuk daerah pemilihannya. Di Amerika Serikat dana itu dinamakan ”gentong babi”. Di Congressional Pig Book biasanya diurutkan daftar proyek gentong babi, nama legislator dan partai pengusulnya, serta nilainya. Continue reading “Rupa-Rupa Celeng Seni Rupa”

49 Tahun Realisme Bumi Tarung

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.co.id

JUNI yang basah ini tepat 49 tahun Sanggar Bumi Tarung (SBT) Jogjakarta. Itulah sanggar seni rupa yang menguasai pleno Lembaga Seni Rupa Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) paling akhir, yakni Juli 1965 (Harian Rakjat, 4/7/1965), sebelum terkubur kutukan revolusionernya. Lalu, SBT kembali bangun dari hibernasinya yang teramat panjang di arena seni rupa Indonesia pada 19 Juni 2008, setelah gelanggang dikuasai sepenuhnya oleh contemporary art (Almanak, 2009: 277). Continue reading “49 Tahun Realisme Bumi Tarung”

Genealogi ”Seni Kerakyatan” Taring Padi

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.com

PADA awal Januari 2010 ini, terbit satu buku seni rupa yang berjudul Taring Padi: Praktik Budaya Radikal di Indonesia (LKiS, 2010; 191 hlm). Buku karangan Heidi Arbuckle ini menambah deretan buku yang memaparkan gerakan seni (rupa) kerakyatan di mana dua tahun sebelumnya seniman Sanggar Bumi Tarung mengeluarkan ”buku putih” mereka dengan judul Amrus Natalsya dan Bumi Tarung (2008). Sementara itu, Moelyono, perupa radikal ISI yang terkenal dengan ”Koperasi Unit Seni”-nya pada era 80-an, sudah jauh hari memperkuat jejak seni kerakyatan dengan mengeluarkan buku Seni Rupa Penyadaran (Bentara Budaya, 1997; 120 hlm) dan Pak Moel Guru Nggambar (Insist Press, 2005; 75 hlm). Continue reading “Genealogi ”Seni Kerakyatan” Taring Padi”

Bahasa ยป