Taufiq Wr. Hidayat *
Melewati jalanmu. Menurun. Tikungan yang tajam. Pohon-pohon jati dan mahoni tumbuh dalam dadamu. Proyek jalan terus memadatkan jalanmu sampai membatu. Tapi mereka menambal jalanmu dengan bahan yang tidak kokoh. Seperti memoleskan mentega di atas sepotong roti.
Melewati jalanmu. Menanjak. Merekam suara dalam mesin penyimpanan. Tarian perempuan sintal di cakrawala televisi. Daging pipinya jatuh ke lantai. Kedua matanya menembak jantungmu, seperti kenangan samar pada rumah tua yang dihuni hantu. Hantu-hantu yang melayang membawa desah dan keluh dari masa lalu. Continue reading “JALAN HUJAN”
