Gadis di Kereta

Hasnan Bachtiar *

AKU harus terdiam di sini, di tengah kegalauan yang semakin memburu jiwa, terombang-ambing gelombang mimpi buruk yang menghantuiku. Entah mengapa aku selalu berpikir, “mengapa kehidupan itu kacau sekali”. Aku tak bisa menebaknya. Menebak masa depan terlalu sulit.

Resahku, sayup-sayup meneror telinga bayi-bayi yang kesepian. Seperti tega untuk menhunjamkan belati bertubi di jantung yang merah merekah. Pastinya, semburat darah hangat, begitu berat tak terelak. Aku takut. Kurasa aku mengidap penyakit saraf. Mungkin itu semacam kutukan dari alam khayali yang membabi-buta. Tapi bukan, ini bukan sekedar kesakitan yang kubuat sendiri, ini hidup, ini kenyataan dan ini dunia yang ada di depan mata.

Jalanku landai menyisir tepian halaman stasiun Kota Baru. Gedung bertubuh kokoh warisan Belanda: Anjing! Aku hanya meniru kata yang keluar dari mulut kakekku ketika mendengar simbol itu: Belanda. Anak bangsa yang menghayati kesan syahdu lantunan nestapa kolonialisme di negeri ini.

Di kursi kayu biru yang memanjang, nenek-nenek menyandarkan punggung lengkungnya melepas lelah kehidupan yang keras sepanjang usia manusia. Rambutnya tergelung tak terlalu rapi, berkebaya coklat kusam dengan goresan batik bermotif daun-daun, mengangkat dagunya dan memperhatikanku tamat-tamat. Rambutnya yang putih semakin mengkilat ketika angin kecil mengajaknya menari. Sejurus kemudian, ringan tangan lemahnya melambai untukku. Langkahku terhenti, “Namun pinta tangan itu untukku?” Mimik yang keriput mempertajam goresan harap-harap cemas di benaknya. “Ya, untukku, pasti untukku.“ Kernyit dahi yang kusaksikan seolah serba tahu akan kegalauan batin ini.

Aku hanya mengulurkan selembar uang lima ribu rupiah untuk mendapatkan pisang goreng panas. Ia penjual gorengan. Langsung kusantap makanan khas rakyat itu. Rasanya nikmat, tapi tak senikmat senyum sang nenek. Aku merasa dekat sekali dengannya. Uang yang tadinya kuberikan tanpa harap kembalian, malah dikembalikan olehnya. Lalu ia berkata, “Tunggulah ia, bersabarlah sebentar saja.”

Bagaimana ia tahu jiwaku sedemikian jauh melayang tanpa tempat singgah. Aku hanya orang yang hidup tetapi mati. Diriku hanya tubuh. Aku tak merasai lagi apa yang disebut dengan cinta. Kebingungan terus berdengung. Aku tak pernah mengerti atas semua yang terjadi. Aku tak bisa percaya begitu saja apa yang dikatakannya. Tapi bagaimana mencari jalanku sendiri? Pegangan hidup kini sedang meragu. Orang aneh itu justru menjadi pemberi kabar bagiku. Yang kumengerti, kini kuhidup sebagai jasad saja. Mungkin terlalu kolot bagi hakikat kehidupan yang serba terikat hukumnya sendiri. Kurasa hidup ini begitu kosong, kosong dari segala kekosongan. Benda hidup yang tak lagi hidup karena melayang jauh ke alam liar ruang yang tak terpikirkan. Aku benci. Aku sulit berpikir.

Kini aku berdiri dan semena-mena meninggalkan tempat duduk setengah berlari menuju tangga terowongan dan berbelok kekanan sampai menemukan dua sisi jalan keluar. Kurasa pintu sebelah kanan adalah jalan yang manis. Jelas sekali, jalan yang sama persis pernah kualami, kini kulalui kembali. Sebelum menghampiri tiang besi yang kokoh panyangga atap stasiun, aku berbalik arah mengambil sisi keluar tangga terowongan sebelah kiri. Siang menerpa segala sudut dan menambah rasa cemas dalam jiwa. Aku terus berjalan lurus hingga tiang terakhir. Mudah-mudahan kali ini aku bisa berdiri di tempat yang teduh. Ah, namun mustahil, semua tempat duduk telah penuh. Aku melanjutkan langkah hingga menonjol taman bunga yang mini. Kududuk di batas taman dari batu yang menghadap berlawanan arah kukerjalan tadi.

Awan panjang berjalan mendekati matahari dan panas siang yang terang menjadi mereda. Angin bertiup sepoi-sepoi, lembut sekali membelaiku dan semua orang di stasiun. Aku beranjak untuk mendekati tiang terakhir, lalu duduk di sebelah kanan, duduk di lantai yang bisa mengayunkan kaki tanpa khawatir untuk terlalu dekat dengan jarak satu meter dari rel kereta jalur dua. Aku selalu merasa tak nyaman, ada yang sangat aneh, cemas sekali, aku bingung, merasa mesti berpindah tempat. Kali ini aku menetapkan diri duduk di sisi itu. Kutengok lagi nenek itu, tapi ia lenyap. Aku tak percaya tapi itulah senyatanya yang kusaksikan. Ragu pula apa yang telah kumakan tadi, tapi sedikit minyak jajanan yang kusantap masih berbekas. Aku masih bersabar menunggu kereta datang, dan aku berpikir tentang kehendak untuk bersabar yang disarankannya. Ya, bersabar. Bersabar menunggui sesuatu.
***

01 Juli 2011
*) Hasnan Bachtiar, peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM, Koordinator Studi Linguistik dan Semiotika di Center for Religious and Social Studies (RëSIST) Malang, Komite Advokasi dan Informasi Rakyat Malang sebagai peneliti, ketua Lembaga Studi Terranova Malang di bidang kajian posmodernisme, anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.