Tanjung Periok Berdarah
suatu malam yang dingin berkabut di bulan oktober 1984, aku ada di neumunster (jerman barat). malam itu ada tamu dari jauh, yang mengabarkan kekejaman rezim suharto membabat rakyat di jalanan dengan senjata buatan amerika.
air mata berlinang, rasanya hati tertusuk bayonet, sakitnya terasa sampai sekarang. kekerasan negara terulang, setiap hari rakyat kecil hanya bisa makan sekali, itu pun kalau ada rejeki. sedangkan birokrasi asik beramai-beramai-berkorupsi. Continue reading “Puisi-Puisi Heri Latief”
