Merayakan Putu Wijaya

Ahmad Rafiq
korantempo.com

Sekitar 35 dramawan dan kelompok teater tampil dalam Mimbar Teater Indonesia di Surakarta. Mengurai jejak kekaryaan Putu Wijaya.

Pentas yang sangat minimalis, sangat kental, terasa dalam pementasan monolog Syamsul Fajri Nurawat dalam Mimbar Teater Indonesia di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Kamis malam lalu. Dia membawakan monolog Zetan karya Putu Wijaya.

Tak banyak benda yang ada di atas panggung. Hanya sebuah meja bertaplak putih. Lampu yang digunakan hanya ada satu, yang diletakkan di lantai. Sesekali penata cahaya mengubah letak lampu agar sang aktor dari Komunitas Akar Pohon Mataram itu mendapatkan pencahayaan yang cukup.

Zetan bercerita tentang khotbah seorang guru yang menggugat sistem pendidikan yang kacau-balau. Pendidikan berbiaya mahal menjadi sebuah komoditas untuk mencari keuntungan. Hanya masyarakat kelas atas yang mampu menikmati pendidikan secara layak. Guru itu kemudian memilih keluar dari pekerjaannya.

Ironisnya, guru itu akhirnya justru menjadi dosen di sebuah akademi yang sangat mahal, tempat sekolah anak-anak orang kaya dan pejabat. Dia berhasil mendidik para mahasiswanya hingga menjadi orang yang pandai dan cerdas. Sayangnya, anak didiknya itu tidak memiliki budi pekerti dan kebijaksanaan. Kali ini dia merasa gagal.

Sejatinya, naskah itu bukanlah monolog. Kiki Sulistyo, pegiat Komunitas Akar Pohon, merombak naskah itu agar bisa dibawakan secara monolog. Alasannya, mereka tidak memiliki banyak biaya untuk membawa tim produksi dalam jumlah besar. Alhasil, hanya perlu dua orang untuk memboyong pementasan itu dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, ke Surakarta. Perombakan itu sekadar untuk menyelaraskan, tanpa perubahan alur. Menurut Kiki, salah satu kekuatan naskah Putu terletak pada penggunaan kata-kata yang sering kali bertentangan dan menjungkirbalikkan logika. “Itu menjadi sebuah teror,” katanya.

Pementasan itu menjadi bagian dari sekitar 34 pementasan dalam Mimbar Teater Indonesia di Surakarta yang berlangsung sejak Senin lalu hingga Ahad nanti. Pertemuan tahunan para dramawan Nusantara itu mengangkat tema “Menyoal Naskah-naskah Putu Wijaya”. Putu memang sangat produktif menulis. Sedikitnya ada 40 naskah drama lahir dari tangannya. Produktivitas Putu sebagai penulis naskah drama itulah yang mendorong Panitia Mimbar Teater Indonesia memilih naskahnya sebagai tema tahun ini, sehingga semua pementasan mengangkat karya Putu, baik monolog, drama kelompok, maupun pembacaan cerita pendek.

Selain itu, dalam acara tersebut digelar seminar yang juga membahas soal Putu. Sejumlah peneliti teater dari luar negeri hadir di sana, seperti Michael Bodden dari Kanada, Cobbina Gillit dari Amerika Serikat, Koh Yung-hun dari Korea Selatan, Tamara Aberle dari Inggris, dan beberapa pengamat teater dari dalam negeri, seperti Beny Yohanes dan Nandang Aradea.

Sekitar 35 dramawan dan kelompok teater tampil di sana, termasuk Teater Cermin, Teater Mandiri, Teater Tanah Air, Teater Lungid, Lingkar Studi Teater Palembang, Masyarakat Batu, dan Seni Teku. Para dramawan yang hadir antara lain Wawan Sofwan, Agus Nur Amal, Butet Kartaredjasa, Ikranagara, dan Rita Matumona.

Putu Wijaya sendiri tampil membuka acara dengan monolog Merdeka pada Senin malam lalu. Lalu dia tampil bersama Teater Mandiri, yang didirikannya, membawakan Zero. Pada hari kedua, Genthong Hariono Selo Aji, aktor monolog asal Yogyakarta, tampil membawakan Klenk, naskah terbaru Putu yang bercerita tentang seorang pria yang mendapat surat panggilan dari sebuah kantor, yang ternyata sebuah surat penangkapan. Adapun Wawan Sofwan, sutradara Mainteater Bandung, menampilkan monolog Dam, yang telah beberapa kali dia pentaskan.

Pegiat Komunitas Planet Senen Jakarta, Agus Jolly, turut meramaikan dengan sebuah performa berjudul Wah Indonesia Nagari Dongeng, karyanya yang dipersembahkan untuk Putu Wijaya. Dalam pementasan itu, Jolly merunut benang merah kekaryaan Putu.

Pementasan Agus menjadi satu-satunya sajian yang digelar di luar ruang. Panggung melingkar dibangun dengan sampah serta lumpur. Dengan menggunakan jubah seperti layaknya raja, Agus bercerita mengenai kondisi negeri yang tidak pernah lepas dari berbagai persoalan, dari bencana hingga teroris.

Menurut Jolly, dalam menulis naskah, Putu Wijaya selalu menyoroti masalah yang ada di negeri ini. Naskah-naskah tersebut merupakan potret nyata kondisi negara melalui sebuah karya sastra. Jolly mencoba merekam potret tersebut dalam pementasannya. “Kami membawakan sesuai bawaan kesenian kami, sebuah teater seni rupa,” kata Jolly.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *