Monolog Putu Wijaya, Hidupkan Pemikiran Si Burung Merak

Yurnaldi
oase.kompas.com

Kehebatan Putu Wijaya bermonolog, memang tak ada duanya. Lebih hebat lagi, dalam monolog berjudul Burung Merak, yang ditampilkan Rabu (4/11) di Wisata Makanan Food City, Jakarta, pimpinan Teater Mandiri itu mampu menghidupkan pemikiran-pemikiran almarhum WS Rendra dalam posisinya sebagai empu demikian Rendra memposisikan diri seniman di depan penguasa, ketika ia mendapat Anugerah Seni dari Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1975. Continue reading “Monolog Putu Wijaya, Hidupkan Pemikiran Si Burung Merak”

Maling

Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/

Di jalanan yang sudah bertahun-ta?hun saya lalui, ada rumah orang ka?ya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda. Continue reading “Maling”

40 Hari Burung MERAK

Putu Wijaya
http://www.facebook.com/pages/Putu-Wijaya/43262432803

RENDRA
Pulang dari tahlilan 7 hari meninggalnya WS Rendra di Bengkel Teater, Citayam, pintu rumah saya terkunci. Saya terpaksa mengambil jalan samping. Di teras yang menghadap ke kebun saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sosok yang membuat darah saya tersirap.

?Mas??
Tak ada jawaban. Saya mencoba menenangkan perasaan. Malam sedang di puncaknya. Tapi ada dering jengkrik yang membuat saya tenang. Saya coba menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar. Continue reading “40 Hari Burung MERAK”

Bayang-Bayang Teror Setengah Matang

Sitok Srengenge
majalah.tempointeraktif.com

NGEH
Naskah dan sutradara: Putu Wijaya
Tempat: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki 11-12 Oktober 1998

Menepis kata dan mengais citra. Itu strategi panggung Putu Wijaya yang terbaru. Sebuah forum kesenian dengan klaim internasional, ternyata, punya pengaruh langsung pada kreativitas seorang Putu Wijaya. Ketegangan antara hasrat menggarap tema aktual dan keinginan menawarkan pola yang universal rupanya telah mendesakkan inspirasi untuk menempuh sebuah keputusan: mengubah strategi pemanggungan. Continue reading “Bayang-Bayang Teror Setengah Matang”

Capres

Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/

Saya sedang sarapan pagi di sebuh hotel di Pulau Bintan, ketika seorang lelaki tampan dan kekar menghampiri. Ia tersenyum sehingga saya tidak sanggup berbuat apa-apa, ketika dia menarik kursi dan menanyakan apa dia boleh bergabung.

”Bapak tidak kenal saya, tapi siapa yang tidak kenal Bapak,” katanya sambil menyodorkan sebuah kartu nama yang sangat meyakinkan. Continue reading “Capres”

Bahasa ยป