Teater Kontemporer

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.

Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni dikampling menjadi dua pulau. Tradisional dan modern. Pertunjukan tradisional dan pertunjukan kontemporer. Baca selengkapnya “Teater Kontemporer”

Dekrit

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya.

?Sawah, tegalan, kebun kelapa, hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita,?katanya. ?Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Kalau dipaksa bertani, kita akan bangkrut. Jual semua, kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Baca selengkapnya “Dekrit”

Tiada Lagi Bang Ali

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Pertama, dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Kedua, almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Baca selengkapnya “Tiada Lagi Bang Ali”