Salam dari Derrida, Jacques

Radhar Panca Dahana
majalah.tempointeraktif.com

LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea. “Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak. Continue reading “Salam dari Derrida, Jacques”

Renungan Kehidupan: Ibu Imajinasi

Radhar Panca Dahana*
Kompas, 30 Agus 2007

Kembali dari Parung Bingung, Bogor, dari sebuah rumah besar bergaya minimalis yang damai?ada sungai di tepinya?dan mengarungi ruang kerja serta galeri pelukis Hanafi, seperti kembali dari perasaan-perasaan purba.

Saya seperti kembali dari dunia lain, di mana kita mengenali kenyataan tidak hanya dari kepadatan lalu lintas, perdagangan sibuk pasar tradisional atau hypermarket. Continue reading “Renungan Kehidupan: Ibu Imajinasi”

Saya Mohon Ampun

Radhar Panca Dahana
Kompas, 20 April 2011

BEBERAPA hari lalu Kementerian Kesehatan memberi peringatan: terjadinya kesalahan dalam sebagian besar pemberian resep oleh dokter telah meningkatkan risiko penyakit di kalangan pasien karena meningkatnya imunitas bakteri atau virus. Continue reading “Saya Mohon Ampun”

Hak yang Batal

Radhar Panca Dahana
http://www.suarakarya-online.com/

Sebagian pengamat dan peneliti mancanegara menyatakan bahwa korupsi di beberapa negara berkembang tidak selalu bermakna negatif. Seperti penelitian di beberapa negara Eropa Timur pascapemisahan Uni Soviet, juga di negara-negara berkembang Afrika maupun di Indonesia, menyatakan bahwa korupsi telah meningkatkan penerimaan sistem pemerintahan yang, bahkan, otoriter di hati masyarakat. Uang pelicin sebagai salah satu manifestasi korupsi, misalnya, terbukti telah memperlancar sistem birokrasi yang sesungguhnya macet dan mampet. Continue reading “Hak yang Batal”